
Para peneliti kembali menyoroti pentingnya sarapan pagi dalam menjaga berat badan ideal, bahkan disebut dapat membantu tubuh menjadi lebih ramping. Berbagai studi ilmiah terus menguatkan pandangan bahwa mengawali hari dengan asupan nutrisi yang tepat dapat memengaruhi metabolisme dan pola makan sepanjang hari.
Salah satu argumen utama yang mendukung sarapan untuk menjaga berat badan adalah kemampuannya dalam mengendalikan nafsu makan. Konsumsi sarapan sehat dapat membuat seseorang merasa kenyang lebih lama, sehingga mengurangi kecenderungan untuk ngemil atau makan berlebihan di waktu makan berikutnya. Menurut pakar UGM, Mirza, kalori dari sarapan pagi tidak akan disimpan sebagai lemak karena langsung digunakan untuk beraktivitas, mencegah asupan berlebih saat makan siang atau sore yang cenderung kurang aktivitas. Ahli gizi Sharon Collison dari University of Delaware juga menyatakan bahwa orang yang rutin sarapan seringkali memiliki aktivitas fisik yang lebih tinggi, pola makan yang lebih baik, dan asupan camilan yang lebih rendah. Sebaliknya, melewatkan sarapan dapat meningkatkan risiko obesitas.
Penelitian oleh Dr. Juliane Richter dari University of Lübeck, Jerman, menemukan bahwa makanan yang dikonsumsi saat sarapan menghasilkan termogenesis yang dipicu oleh pola makan (DIT) dua kali lipat dibandingkan makanan yang sama yang dikonsumsi saat makan malam. Ini menunjukkan bahwa metabolisme tubuh bekerja lebih efisien di pagi hari dalam membakar kalori. Para peneliti menyarankan penderita obesitas dan orang sehat untuk mengonsumsi sarapan dalam jumlah besar dibandingkan makan malam dalam jumlah besar guna menurunkan berat badan dan mencegah penyakit metabolik. Selain itu, sarapan dalam satu setengah jam pertama setelah bangun tidur disebut dapat menentukan ritme metabolisme yang tepat untuk sepanjang hari.
Namun, penting untuk dicatat bahwa manfaat sarapan ini sangat bergantung pada pilihan menu yang dikonsumsi. Sarapan yang sehat berarti kaya akan serat, protein, dan lemak sehat. Pilihan seperti roti gandum, telur, oatmeal, yogurt, dan smoothie protein direkomendasikan karena dapat memberikan energi dan rasa kenyang yang tahan lama, serta mengandung nutrisi penting. Telur, misalnya, memiliki kandungan protein tinggi yang dapat mengurangi nafsu makan, sementara oatmeal dengan serat larut beta-glukan dapat menjaga rasa kenyang lebih lama.
Meskipun demikian, beberapa penelitian menawarkan perspektif yang berbeda. Sebuah analisis baru yang diterbitkan dalam BMJ menemukan bahwa orang yang rutin sarapan cenderung mengonsumsi rata-rata 260 kalori ekstra per hari dan berpotensi memiliki berat badan lebih tinggi. Studi ini, yang dilakukan oleh tim Dr. Flavia Cicuttini dari Monash University, Australia, menyimpulkan bahwa sarapan mungkin bukan cara yang dapat diandalkan untuk menurunkan berat badan, dan melewatkannya tidak selalu meningkatkan nafsu makan di kemudian hari. Analisis lain, termasuk studi dalam The Journal of Obesity, juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan substansial dalam penurunan berat badan antara individu yang sarapan dan yang tidak.
Melihat berbagai temuan ini, konsensus yang muncul adalah bahwa sarapan memang penting, tetapi lebih kepada kualitas dan komposisi sarapan itu sendiri. Sarapan yang sehat dan seimbang dapat menjadi bagian integral dari strategi pengelolaan berat badan yang efektif, asalkan tidak diisi dengan makanan tinggi kalori, gula, dan lemak jenuh. Melewatkan sarapan secara konsisten justru dapat memicu keinginan untuk makan lebih banyak di waktu makan berikutnya dan meningkatkan risiko kenaikan berat badan.