
Sebuah inovasi kuliner yang mengintegrasikan kekayaan rasa ayam bakar tradisional dengan siraman kuah rempah kental, Ayam Bakar Kuah Tugu, berhasil menarik perhatian signifikan di tengah lanskap kuliner Yogyakarta yang kompetitif, mengukuhkan posisinya sebagai daya tarik baru bagi wisatawan dan warga lokal. Berlokasi strategis di Jalan Pangeran Mangkubumi Nomor 60, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, hanya sekitar 100 meter dari ikon Tugu Pal Putih, tempat makan ini menawarkan pengalaman gastronomi yang berbeda, dengan resep turun-temurun yang telah diwariskan sejak tahun 1976.
Keunikan hidangan ini terletak pada proses pembuatannya. Ayam bakar yang disajikan di sini dikenal sangat empuk, dengan bumbu yang meresap sempurna hingga ke tulang, dilengkapi kuah kental berwarna kecokelatan yang kaya rempah. Kuah tersebut, yang dimasak selama 18 jam penuh, menghasilkan perpaduan rasa gurih, manis, dan sedikit pedas yang mendalam, sebuah proses yang memastikan semua rempah dan bahan alami menyatu dengan sempurna. Proses panjang ini bukan sekadar teknik memasak, melainkan bagian dari warisan keluarga yang menjaga keautentikan rasa, membedakannya dari varian ayam bakar lainnya di kota ini.
Kemunculan Ayam Bakar Kuah Tugu menambah daftar panjang destinasi kuliner yang memicu pertumbuhan sektor pariwisata lokal. Yogyakarta sendiri mencatat peningkatan kunjungan wisatawan nusantara. Hingga Maret 2025, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 10.240.350 perjalanan, naik 3,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sektor kuliner mendominasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di DIY, dengan proyeksi jumlah pelaku UMKM mencapai lebih dari 340.000 pada tahun 2025, yang menunjukkan vitalitas ekonomi berbasis makanan.
Dampak dari kehadiran tempat kuliner semacam Ayam Bakar Kuah Tugu tidak hanya terbatas pada penciptaan variasi menu, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian lokal. Wisata kuliner di Yogyakarta telah lama diidentifikasi sebagai kekuatan pendorong ekonomi daerah, mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal. Konsep sirkular dalam penyajian menu yang diterapkan oleh Ayam Bakar Kuah Tugu, yang berupaya mengurangi limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya, juga menunjukkan kesadaran akan keberlanjutan.
Dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp 17.000 hingga Rp 32.000 per paket, Ayam Bakar Kuah Tugu menjadi pilihan ekonomis yang menarik bagi berbagai segmen pengunjung. Fenomena popularitasnya juga sejalan dengan tren kuliner viral di Yogyakarta yang terus bermunculan, di mana pengunjung rela mengantre panjang untuk mencicipi hidangan unik. Kemudahan akses lokasi yang dekat dengan Tugu Jogja, serta opsi pembayaran digital melalui QRIS, turut menunjang daya tariknya.
Implikasi jangka panjang dari keberhasilan tempat kuliner seperti Ayam Bakar Kuah Tugu adalah penguatan identitas kuliner Yogyakarta di kancah nasional maupun internasional. Inovasi yang tetap berakar pada tradisi, seperti yang ditunjukkan oleh Ayam Bakar Kuah Tugu, dapat menjadi model bagi UMKM kuliner lainnya untuk beradaptasi dengan tren pasar tanpa meninggalkan kekayaan budaya. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri terus berupaya mendukung pertumbuhan UMKM melalui berbagai kebijakan dan program, termasuk dorongan untuk mengadopsi digitalisasi. Oleh karena itu, keberlanjutan dan kemampuan adaptasi akan menjadi kunci bagi Ayam Bakar Kuah Tugu dan sejenisnya untuk mempertahankan posisinya dalam peta kuliner yang dinamis di masa mendatang.