Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Surga Kuliner Hemat Tebet: Ayam Bakar & Bakmi Rp20 Ribuan untuk Tanggal Tua

2026-01-20 | 17:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-20T10:56:52Z
Ruang Iklan

Surga Kuliner Hemat Tebet: Ayam Bakar & Bakmi Rp20 Ribuan untuk Tanggal Tua

Di tengah tekanan inflasi pangan dan tingginya biaya hidup di Jakarta, sejumlah tempat kuliner di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, menawarkan pilihan makanan yang ramah di kantong, dengan hidangan mulai dari ayam bakar hingga bakmi seharga Rp20 ribuan. Fenomena "kuliner tanggal tua" ini menjadi strategi adaptif masyarakat urban untuk tetap memenuhi kebutuhan pangan tanpa mengorbankan kualitas di akhir bulan, sekaligus mencerminkan pergeseran pola konsumsi yang lebih hemat namun tetap mencari nilai.

Kawasan Tebet, yang dikenal sebagai salah satu sentra kuliner di Jakarta Selatan, menjadi episentrum bagi penawaran makanan terjangkau. Berbagai kedai kaki lima hingga restoran sederhana menyajikan hidangan populer seperti Bakso Gondrong, yang telah menjadi ikon kuliner sejak 1999 dengan harga mulai Rp21.000 per porsi, atau Mie Ayam Papi Gendut yang menawarkan mie ayam jamur komplet seharga Rp30.000 dan pilihan lain mulai Rp20.000-Rp25.000. Ayam Bakar Mas Mono di Tebet Timur Dalam Raya juga menawarkan ayam bakar khas Jawa dengan harga mulai Rp25.000 per porsi, sementara Warteg Warmo menyediakan menu mulai sekitar Rp10.000. Soto Gebrak juga menawarkan aneka soto dengan kisaran harga Rp20 ribuan. Beberapa tempat lain yang menyediakan pilihan kuliner terjangkau di Tebet meliputi Bubur Ayam Sukabumi dengan harga mulai Rp15.000, Sate Taichan "Goreng" Tebet mulai Rp20.000, Rojo Sambel yang speciality bebek asapnya dibanderol mulai Rp20.000, serta Geprek Gian dan Geprek Gold Chick yang menyajikan ayam geprek dengan harga terjangkau. Bahkan, Nasi Uduk Ayam Goreng Kampung Melayu menyediakan hidangan mulai Rp27.000 per orang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran rumah tangga di Jakarta untuk makanan, minuman, dan tembakau mencapai Rp2.785.136 per bulan pada 2022, sementara total pengeluaran konsumsi rata-rata rumah tangga di Jakarta mencapai Rp14,88 juta per bulan pada tahun yang sama. Angka ini jauh di atas Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta 2025 yang berada di kisaran Rp5,3 juta, mengindikasikan adanya celah signifikan antara pendapatan dan biaya hidup. Proyeksi biaya hidup di Jakarta tahun 2024 bahkan menunjukkan bahwa konsumsi makan tiga kali sehari dengan asumsi Rp20.000 per porsi dapat mencapai Rp1,8 juta per bulan untuk individu.

Inflasi pangan menjadi perhatian serius. BPS mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang tahun 2025 mencapai 2,92% (year-on-year), didorong kuat oleh lonjakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,58% dan memberikan andil inflasi terbesar yakni 1,33%. Kenaikan inflasi ini dinilai para ekonom sebagai sinyal bahaya bagi daya beli masyarakat, terutama kelas menengah yang berpotensi "terjepit" akibat kenaikan harga pangan. Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Sulistiadi Dono Iskandar, menyatakan bahwa kenaikan inflasi dan harga pangan berdampak pada seluruh lapisan masyarakat, khususnya keluarga berpendapatan rendah, yang terpaksa mengurangi belanja pangan atau memilih alternatif kurang bernutrisi.

Dalam konteks ini, keberadaan tempat kuliner dengan harga terjangkau di Tebet bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan esensial. Fenomena ini juga sejalan dengan tren gaya hidup hemat (cost-saving) yang semakin marak di Indonesia, mendorong masyarakat untuk membatasi makan di luar rumah namun tetap mencari pengalaman makan yang seru dan menyenangkan dengan harga terjangkau. Brand Manager Ramen YES (WINGS Group), Yohana Adityarini, pada Januari 2026, menyoroti bahwa konsumen, khususnya milenial dan Gen Z, mencari produk yang memberi sensasi lebih tanpa harus membayar harga restoran. Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli bukan satu-satunya faktor, tetapi juga nilai dan pengalaman yang ditawarkan dalam setiap pengeluaran.

Di masa depan, dinamika ekonomi yang dipengaruhi oleh inflasi dan daya beli masyarakat diperkirakan akan terus mendorong inovasi dalam sektor kuliner. Peningkatan permintaan akan makanan sehat praktis dan rasa global yang bisa dihadirkan di dapur rumahan menjadi tren yang diprediksi akan naik daun pada 2026. Para pelaku usaha kuliner di Tebet dan sekitarnya yang mampu menawarkan kombinasi harga terjangkau, cita rasa yang konsisten, dan variasi menu akan terus relevan dalam menghadapi tantangan ekonomi serta perubahan preferensi konsumen. Kemampuan untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang sensitif harga sambil tetap menjaga kualitas akan menjadi kunci kelangsungan bisnis di tengah fluktuasi ekonomi yang berkelanjutan.