
Dengan derasnya hujan yang sering mengguyur sebagian besar wilayah Indonesia, hidangan berkuah hangat seperti tekwan khas Palembang muncul sebagai pilihan kuliner yang konsisten dicari, melampaui sekadar preferensi rasa, menjadi bagian penting dari respons budaya terhadap cuaca dingin dan kebutuhan nutrisi tubuh. Tekwan, sup ikan berbulatan kecil yang disajikan dengan kuah udang gurih, sohun, irisan bengkuang, dan jamur kuping, adalah representasi dari kekayaan gastronomi Indonesia yang berakar pada perpaduan budaya dan adaptasi lokal.
Secara historis, tekwan merupakan kuliner hasil akulturasi budaya Palembang dan Tionghoa, yang kemudian dimodifikasi oleh masyarakat Palembang untuk menyesuaikan dengan selera lokal, terutama dengan penambahan kuah kaldu dan bumbu khas daerah. Asal nama "tekwan" sendiri berasal dari frasa Palembang "berkotek samo kawan" yang berarti "duduk mengobrol bersama teman," menggambarkan fungsi sosial makanan ini sebagai pemersatu dalam kebersamaan. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada tekwan; banyak makanan tradisional Indonesia lainnya seperti bakso, soto, dan mi rebus juga mengalami peningkatan permintaan yang signifikan selama musim hujan, di mana masyarakat mencari kehangatan dan kenyamanan.
Dari perspektif gizi, tekwan menawarkan kombinasi nutrisi yang relevan untuk mendukung kesehatan tubuh di tengah perubahan cuaca. Bahan utama tekwan, ikan tenggiri, dikenal kaya akan protein tinggi, asam lemak Omega-3, dan Koenzim Q10, yang penting untuk pertumbuhan jaringan, kesehatan otak dan jantung, serta peningkatan imunitas tubuh. Asam lemak tak jenuh tunggal pada ikan tenggiri juga berperan dalam menjaga stabilitas kadar gula darah. Sementara itu, penggunaan tepung sagu sebagai bahan dasar bulatan tekwan menyediakan karbohidrat kompleks yang menjadi sumber energi, dengan setiap 100 gram tepung sagu dapat menyumbang sekitar 353-362 kkal. Sagu sendiri memiliki peran penting dalam ketahanan pangan Indonesia, khususnya di wilayah timur, sebagai sumber karbohidrat alternatif yang adaptif terhadap kondisi lokal dan tidak tergantung musim panen.
Para ahli kuliner dan gizi kerap menyoroti pentingnya konsumsi makanan hangat dan bergizi selama musim hujan. Menurut beberapa ahli nutrisi, makanan hangat dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah dan memicu pelepasan hormon serotonin yang berkaitan dengan rasa nyaman. Chef Vindex Tengker, juri MasterChef Indonesia musim pertama, secara konsisten menekankan pentingnya makanan sehat kaya protein, mineral, dan vitamin untuk meningkatkan imun tubuh, seperti yang diungkapkannya dalam konteks makanan berkuah.
Implikasi dari tren konsumsi tekwan dan hidangan sejenis selama musim hujan meluas pada sektor ekonomi mikro dan pelestarian budaya. Makanan tradisional Indonesia memiliki nilai budaya tinggi karena memuat sejarah, identitas, dan kearifan lokal yang perlu dilestarikan. Peningkatan permintaan dapat mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner tradisional, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal. Namun, tantangan globalisasi dan modernisasi selera masyarakat tetap ada, mengharuskan UMKM beradaptasi dengan inovasi tanpa menghilangkan otentisitas rasa. Hal ini memerlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas untuk terus mempromosikan dan mengembangkan kuliner tradisional. Upaya pelestarian ini tidak hanya menjaga warisan kuliner, tetapi juga memperkuat identitas nasional di tengah persaingan global.