Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Kue Cubit Cokelat Tabur Lembut: Resep Camilan Praktis Bikin Ketagihan

2026-01-19 | 18:09 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T11:09:00Z
Ruang Iklan

Rahasia Kue Cubit Cokelat Tabur Lembut: Resep Camilan Praktis Bikin Ketagihan

Permintaan yang terus meningkat terhadap jajanan tradisional Indonesia dengan sentuhan modern, seperti resep kue cubit tabur cokelat yang lembut, mencerminkan strategi adaptasi yang krusial bagi keberlanjutan sektor kuliner Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tengah lanskap pasar yang dinamis. Perkembangan ini tidak hanya menarik segmen konsumen muda, melainkan juga menopang pertumbuhan ekonomi lokal secara signifikan.

Kue cubit, camilan mungil yang dikenal luas di Indonesia, memiliki sejarah panjang yang berakar dari akulturasi kuliner Belanda, terinspirasi oleh poffertjes, pancake mini khas Belanda. Popularitasnya mulai menyebar di Jakarta sejak tahun 1980-an atau awal 1990-an, bermula dari ketidaksengajaan seorang anak pedagang kue di Jakarta Barat yang mencubit adonan saat dimasak, menciptakan tekstur tengah yang lembut dan pinggiran renyah yang kemudian menjadi ciri khasnya. Dari awalnya hanya rasa vanila dengan taburan mesis cokelat, kue cubit telah berevolusi dengan beragam varian rasa dan topping modern seperti green tea, red velvet, taro, keju, hingga oreo crumble.

Kunci di balik tekstur lembut yang banyak dicari konsumen terletak pada pemilihan bahan baku dan teknik pengolahan. Penggunaan tepung terigu protein rendah yang berkualitas baik menjadi fundamental untuk menghasilkan adonan yang empuk. Penambahan susu bubuk juga berkontribusi pada kelembutan dan kekayaan rasa, sementara penggunaan baking powder berperan dalam pengembangan adonan. Para ahli kuliner menekankan pentingnya tidak mengaduk adonan secara berlebihan untuk mencegah pembentukan gluten yang dapat membuat kue menjadi keras. Suhu cetakan yang tepat dan api kecil hingga sedang saat memasak memastikan kematangan merata tanpa mengurangi kelembutan bagian dalam. Sementara itu, taburan cokelat yang lembut umumnya merujuk pada kualitas cokelat yang lumer di mulut, menambah dimensi sensori yang signifikan bagi pengalaman makan. Konsumen kini semakin menghargai sensasi di mulut (mouthfeel) sebagai faktor utama kenikmatan makanan, mendorong produsen untuk berinovasi pada tekstur dan rasa.

Inovasi pada jajanan tradisional seperti kue cubit ini sejalan dengan tren "modernized comfort food" yang tengah populer di Indonesia, di mana hidangan klasik dirombak dengan cara yang lebih inovatif. Media sosial seperti TikTok dan Instagram memainkan peran krusial dalam memviralkan hidangan dengan tampilan menarik dan rasa unik, menjadikan karakter menu yang sederhana, mudah dibuat, dan "fotogenik" sebagai daya tarik utama bagi Generasi Z. Sektor makanan dan minuman di Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencapai 6,49% hingga kuartal ketiga 2025, melebihi target 2024. UMKM, yang mendominasi struktur ekonomi Indonesia dengan kontribusi 61,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada pertengahan 2025 dan lebih dari 65 juta unit usaha, menjadi penggerak utama tren ini. Data menunjukkan, pada tahun 2023, usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia berjumlah 4,85 juta unit, menyerap 9,80 juta pekerja, dengan nilai penjualan mencapai 998,37 triliun rupiah. Sebanyak 6.400.667 unit UMKM tercatat bergerak di sektor penyediaan akomodasi, makanan, dan minuman hingga akhir tahun 2024. Pemanfaatan platform digital untuk penjualan daring juga semakin masif, dengan 85,55% usaha kuliner sudah menyediakan layanan online pada tahun 2020.

Adaptasi resep kue cubit dengan sentuhan cokelat lembut dan inovasi lainnya menunjukkan prospek cerah bagi masa depan jajanan tradisional Indonesia. Kreativitas para pelaku UMKM dan dukungan platform digital akan terus mendorong popularitas camilan ini, baik di pasar lokal maupun internasional. Tren ini juga mengindikasikan bahwa menjaga relevansi kuliner tradisional memerlukan keseimbangan antara mempertahankan identitas budaya dan merespons selera konsumen yang terus berkembang, terutama generasi muda. Melalui inovasi berkelanjutan, jajanan pasar seperti kue cubit tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga bagian integral dari ekosistem kuliner modern yang terus berevolusi.