
The rich, umami-laden tauco, pasta kedelai fermentasi yang telah mengakar dalam khazanah kuliner Indonesia, terus mempertahankan relevansinya sebagai penyedap esensial dalam berbagai hidangan gurih, mulai dari tumisan sayuran segar hingga lauk berbasis protein. Bumbu tradisional ini, yang diperkenalkan ke Nusantara oleh imigran Tionghoa pada abad ke-19, kini diapresiasi tidak hanya karena kemampuannya meningkatkan cita rasa, tetapi juga kontribusinya terhadap tren pangan sehat global.
Sejarah tauco di Indonesia, khususnya di Cianjur, Jawa Barat, mencerminkan akulturasi budaya yang mendalam. Para pedagang Tionghoa membawa teknik fermentasi kedelai yang di Tiongkok dikenal sebagai “doubanjiang” atau “taotjo” ke berbagai wilayah pesisir, termasuk Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Di Cianjur, proses adaptasi resep ini menghasilkan tauco dengan karakteristik khas yang lebih manis dan lembut, berbeda dengan varian Medan yang cenderung lebih asin dan tajam. Tonggak sejarah penting adalah pendirian industri tauco oleh Tan Ken Yan pada tahun 1880, yang kemudian diwariskan dan dikenal sebagai "Tauco Cap Meong" sejak tahun 1935, menjadi ikon kuliner Cianjur dan bahkan diekspor ke berbagai daerah. Pembuatan tauco melibatkan perendaman kedelai, perebusan, pencampuran dengan ragi khusus seperti Aspergillus oryzae, lalu proses fermentasi dan perendaman dalam larutan garam selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, menghasilkan pasta berwarna cokelat kekuningan dengan aroma dan rasa khas.
Dari perspektif gizi, tauco merupakan salah satu pangan fermentasi lokal yang menawarkan manfaat kesehatan signifikan. Dalam setiap 100 gramnya, tauco mengandung 11,4 gram protein, 6,0 mg zat besi, 463 mg fosfor, 0,39 mg tembaga, dan 1,0 mg seng. Lebih dari sekadar profil nutrisi, proses fermentasi pada tauco meningkatkan bioavailabilitas nutrisi, menjadikannya lebih mudah diserap oleh tubuh, serta menghasilkan probiotik yang mendukung kesehatan pencernaan. Dr. Rina Kusuma, seorang ahli gizi klinis, menekankan bahwa konsumsi rutin makanan fermentasi sangat mendukung keseimbangan mikrobiota usus dan masyarakat harus bangga dengan warisan kuliner yang menawarkan manfaat kesehatan sebanding dengan produk impor. Hal ini sejalan dengan tren gaya hidup sehat global yang kini mengalihkan perhatian pada superfood tradisional kaya nutrisi dan probiotik.
Fleksibilitas kuliner tauco terlihat dari kemampuannya menyempurnakan berbagai hidangan. Dalam tumis kangkung, misalnya, tauco memberikan sentuhan rasa gurih asin yang mendalam dan aroma khas yang membedakannya dari tumisan biasa. Saus tauco yang dicampur dengan bumbu lain seperti bawang putih, bawang merah, cabai, dan terasi menciptakan paduan rasa kompleks yang menggugah selera. Untuk hidangan berbasis protein seperti ayam, tauco mengubah potongan daging ayam menjadi lauk yang kaya rasa, gurih, dan sedikit pedas, seringkali dipadukan dengan jahe, bawang bombay, kecap manis, dan saus tiram untuk kedalaman rasa yang lebih. Demikian pula, tauco efektif digunakan dalam olahan tahu dan tempe, dua sumber protein nabati populer, menciptakan hidangan sederhana namun sedap yang memperkaya cita rasa tahu dan tempe dengan karakteristik gurih dan asamnya.
Kebangkitan popularitas makanan fermentasi lokal, termasuk tauco, tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat tetapi juga memberikan dorongan signifikan terhadap perekonomian produsen lokal skala kecil dan menengah. Meskipun tantangan dalam standardisasi proses produksi dan ketersediaan bahan baku berkelanjutan masih ada untuk menembus pasar global, potensi tauco sebagai bagian integral dari kuliner tradisional dan superfood modern tetap tinggi. Ke depan, dengan inovasi dalam varian rasa dan aplikasi kuliner, tauco memiliki peluang besar untuk mendapatkan pengakuan yang lebih luas, baik sebagai warisan kuliner yang patut dilestarikan maupun sebagai bahan pangan fungsional di kancah internasional.