Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mulai Rp15 Ribu: 5 Mie Ayam Bangka Paling Diburu di Jakarta

2026-01-22 | 15:23 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T08:23:26Z
Ruang Iklan

Mulai Rp15 Ribu: 5 Mie Ayam Bangka Paling Diburu di Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sedang berupaya mengendalikan inflasi pangan, namun di tengah dinamika ekonomi tersebut, lima penjaja mie ayam Bangka di sejumlah sudut ibu kota tetap menawarkan hidangan berharga sekitar Rp 15.000, menarik perhatian konsumen yang mencari opsi kuliner terjangkau tanpa mengorbankan kualitas. Fenomena ini menunjukkan resiliensi sektor kuliner rakyat dalam menjaga daya beli masyarakat, sekaligus menyoroti adaptasi pelaku usaha di tengah tekanan biaya bahan baku.

Sejarah mie ayam Bangka di Jakarta berakar kuat dari gelombang migrasi masyarakat Tionghoa dari Pulau Bangka sejak pertengahan abad ke-20, yang membawa serta tradisi kuliner khas mereka. Resep otentik, dengan topping ayam cincang gurih, sawi, tauge, dan taburan bawang goreng renyah, telah menjadi salah satu primadona kuliner jalanan Jakarta. Meskipun rata-rata harga makanan di warung dan rumah makan di Jakarta mengalami kenaikan signifikan, beberapa penjual mie ayam Bangka masih berhasil mempertahankan harga yang ramah di kantong, menjadi pilihan utama bagi pekerja kantoran dan mahasiswa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi tahunan Jakarta pada Desember 2025 berada pada level 2,98%, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi. Namun, kehadiran kuliner seharga Rp 15.000 seperti mie ayam Bangka ini menjadi indikator penting dalam menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga.

Salah satu contoh adalah Mie Ayam Bangka Acuan di kawasan Mangga Besar, yang telah beroperasi selama puluhan tahun, konsisten menyajikan mie dengan tekstur kenyal dan bumbu medok. Konsumen seringkali mengapresiasi porsi yang cukup mengenyangkan dengan harga yang sulit ditemui di tempat lain. Di sisi lain, Mie Ayam Bangka Asan di Cikini menawarkan cita rasa yang sedikit berbeda, dengan sentuhan bumbu yang lebih manis dan gurih, menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan setianya. Lalu lintas harian pengunjung di kedua lokasi ini, terutama saat jam makan siang, seringkali membludak, membuktikan permintaan tinggi akan makanan berkualitas dengan harga terjangkau.

Lebih jauh ke selatan, Mie Ayam Bangka Afa di sekitar Tebet juga menjadi incaran. Meskipun lokasi ini telah berkembang pesat dengan berbagai kafe modern, Mie Ayam Bangka Afa tetap mempertahankan identitas dan harganya. Sementara itu, di area Jakarta Barat, Mie Ayam Bangka Aloy di Tanjung Duren dikenal dengan kuah kaldu ayamnya yang kaya rasa. Penjual-penjual ini umumnya menggunakan strategi efisiensi biaya operasional, mulai dari pembelian bahan baku langsung dari pasar tradisional dalam jumlah besar hingga minimnya biaya promosi, mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Adaptasi ini menjadi kunci keberlanjutan bisnis mereka. Menurut seorang pengamat ekonomi mikro dari Universitas Indonesia, model bisnis yang mengandalkan volume penjualan tinggi dan margin keuntungan tipis adalah strategi klasik yang efektif di segmen pasar makanan kaki lima perkotaan yang kompetitif.

Terakhir, Mie Ayam Bangka Amin di daerah Kelapa Gading turut melengkapi daftar ini, menawarkan pengalaman rasa yang autentik khas Bangka dengan harga serupa. Keberadaan warung-warung mie ayam Bangka yang mampu bertahan dengan harga Rp 15.000 di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok, termasuk mi, ayam, dan sayuran, menggambarkan daya tahan dan daya adaptasi pelaku usaha kecil. Fenomena ini juga mengindikasikan bahwa segmen pasar makanan terjangkau tetap menjadi tulang punggung perekonomian kuliner Jakarta, memberikan alternatif signifikan bagi konsumen di tengah tekanan ekonomi. Implikasi jangka panjangnya, keberadaan penjaja makanan berharga terjangkau ini tidak hanya menopang kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga memelihara keragaman kuliner tradisional yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota metropolitan. Konsumen secara tidak langsung mendapatkan perlindungan dari fluktuasi harga yang lebih besar di segmen restoran menengah ke atas.