
Suhu udara yang seringkali tidak menentu di kota-kota besar Indonesia, terutama Jakarta, secara konsisten mendorong permintaan akan hidangan berkuah hangat dan terjangkau, dengan soto mie menjadi salah satu primadona kuliner jalanan yang bertahan di tengah tekanan inflasi. Pada Januari 2026, fenomena ini tidak hanya menyoroti preferensi konsumen tetapi juga resiliensi pedagang kaki lima dalam menjaga harga tetap kompetitif, bahkan untuk hidangan yang kaya rasa dan mengenyangkan.
Soto mie, hidangan berkuah khas yang sering dikaitkan dengan Bogor, telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap kuliner Indonesia, dengan varian Jakarta yang juga sangat populer. Sejarahnya merentang jauh ke belakang, berakar dari akulturasi budaya Tionghoa dan Melayu, yang pada mulanya merupakan makanan yang hanya dinikmati oleh kalangan bangsawan dan orang kaya pada masa kolonial Belanda. Seiring waktu, hidangan ini bertransformasi menjadi santapan merakyat, disajikan dengan mie kuning, bihun, irisan daging sapi (atau kikil, babat, urat), kol, tomat, dan risol goreng, dilengkapi dengan emping, perasan jeruk limau, serta sambal.
Meskipun inflasi makanan di Indonesia menunjukkan tren peningkatan—mencapai 4,58 persen pada Desember 2025 dibandingkan tahun sebelumnya—dan proyeksi Bank Indonesia untuk inflasi tahunan 2025 sebesar 4,7 persen, pedagang soto mie terus berinovasi untuk menawarkan harga yang ramah di kantong. Kenaikan harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, dan daging ayam telah signifikan, secara langsung menggerus daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Dalam konteks ini, keberadaan soto mie dengan harga mulai Rp 20 ribuan menjadi penopang ekonomi bagi banyak konsumen yang mencari opsi makanan hangat, lezat, dan mengenyangkan tanpa membebani anggaran.
Berikut adalah lima tempat yang dikenal menyajikan soto mie berkualitas dengan harga terjangkau di Jakarta:
1. Soto Mie Bogor Bang Alex di Jakarta Barat merupakan salah satu nama yang sering disebut dalam rekomendasi soto mie lezat. Dengan harga sekitar Rp 25.000 per porsi, hidangan ini menyajikan mi kuning, bihun, potongan daging besar, risol, irisan lobak, dan kuah gurih yang telah mendapatkan ribuan ulasan positif. Popularitasnya terlihat dari keramaian warungnya di Kantin Gang Macan, Green Ville, Jakarta Barat.
2. Soto Mie CC di Pulo Gadung, Jakarta Timur, menawarkan semangkuk soto mie dengan irisan daging tebal seharga Rp 22.000. Warung ini, yang berlokasi di pekarangan rumah pemiliknya, terkenal dengan rasa mantap dan porsi mengenyangkan yang bisa ditambahkan nasi putih seharga Rp 3.000.
3. Soto Mie Pak H. Darjo di Puri Kembangan, Jakarta Barat, adalah warung legendaris yang beroperasi sejak 1988, memulai usahanya dengan gerobak keliling. Seporsi soto mie biasa dibanderol mulai dari Rp 25.000, dengan ciri khas risol berukuran panjang yang bisa dipesan terpisah untuk menjaga kerenyahannya.
4. Soto Mie Bogor Pak Kadir, yang berlokasi di dekat Rukan Daan Mogot Raya, Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, menawarkan soto mie seharga Rp 20.000 untuk porsi biasa. Warung ini juga menyediakan menu spesial seharga Rp 30.000 dengan tambahan daging dan risol yang lebih banyak.
5. Soto Mie Bang Wawan di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, menjadi pilihan lain dengan harga Rp 20.000 tanpa nasi. Keberadaan soto mie ini menunjukkan bagaimana hidangan jalanan tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang mencari makanan lezat dan ekonomis.
Keberadaan pedagang kaki lima yang menawarkan soto mie dengan harga terjangkau ini tidak hanya memenuhi kebutuhan perut, tetapi juga berperan penting dalam menjaga stabilitas sosial-ekonomi di tengah fluktuasi harga. Survei nasional beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga untuk makanan jadi tetap dominan, dan pada 2026, tren pesan-antar serta makan di luar masih tinggi di kota-kota besar. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam sektor kuliner ini menghadapi tantangan untuk membakukan resep dan menjaga konsistensi rasa demi mempertahankan daya saing di pasar yang ketat. Namun, inovasi dalam distribusi, seperti sistem keliling atau sentra kuliner, menjadi strategi vital bagi mereka untuk tetap relevan dan dijangkau oleh konsumen yang mencari nilai optimal dari setiap rupiah yang dikeluarkan.