Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

5 Kedai Kopi Legendaris Jakarta Timur: Temukan yang Tertua dari Tahun 1943!

2026-01-21 | 18:27 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-21T11:27:08Z
Ruang Iklan

5 Kedai Kopi Legendaris Jakarta Timur: Temukan yang Tertua dari Tahun 1943!

Di tengah riuhnya perkembangan kedai kopi modern dengan konsep minimalis dan sajian kekinian, lima kedai kopi jadul di Jakarta Timur tetap teguh mempertahankan identitas dan cita rasa otentik yang telah diwariskan lintas generasi. Keberadaan kedai-kedai ini, salah satunya legendaris sejak 1943, bukan sekadar pelestarian kuliner, melainkan penanda kuat akan sejarah panjang budaya minum kopi di ibu kota yang akarnya bahkan menjejak hingga abad ke-17.

Jakarta, khususnya kawasan Pondok Kopi di Jakarta Timur, memiliki sejarah signifikan sebagai lokasi perkebunan kopi pertama di Indonesia, dimulai pada tahun 1696 ketika bibit kopi Arabika dari Yaman diujicobakan di lahan pribadi Gubernur Jenderal VOC Willem van Outhoorn. Meskipun penanaman awal sempat terhambat banjir, upaya kedua pada 1699 berhasil, membuka jalan bagi Indonesia menjadi produsen kopi global. Kini, seiring pertumbuhan pesat industri kopi nasional yang menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah kedai kopi terbanyak di dunia dengan sekitar 461.991 kedai aktif hingga November 2025, Jakarta Timur sendiri mencatat jumlah signifikan antara 7.800 hingga 8.800 unit kedai kopi. Di tengah dominasi kafe-kafe baru, kedai-kedai lawas ini menawarkan pengalaman yang berbeda, sebuah perjalanan kembali ke masa lalu.

Salah satu yang paling menonjol adalah Toko Sedap Djaja, atau yang populer dengan sebutan Kopi Bis Kota, di Pasar Jatinegara. Didirikan pada tahun 1943, kedai ini merupakan ikon yang dikelola oleh generasi ketiga, menawarkan biji kopi robusta, arabika, dan bahkan kopi WB yang unik dari biji kopi belum matang. Konsistensi dalam menyajikan kopi tubruk dengan cara penggilingan tradisional telah menjadikannya pilihan utama bagi penikmat kopi yang mencari cita rasa khas Jakarta tempo dulu. Toko ini tidak hanya menjual kopi, tetapi juga sembako, mencerminkan fungsi ganda kedai kopi tradisional sebagai pusat komunitas.

Tak jauh dari situ, Toko Kopi Bemo, yang memulai operasionalnya pada 1965, turut memperkaya lanskap kopi jadul di Jakarta Timur. Awalnya dikenal sebagai penjual biji kopi di dalam pasar, Toko Kopi Bemo kini telah bertransformasi menjadi kedai kopi yang lebih modern namun tetap mempertahankan keotentikan racikan kopinya, menyajikan pilihan mulai dari Kopi O hingga Kopi Caramel Latte. Evolusi ini menunjukkan adaptasi bisnis lama terhadap tuntutan pasar baru tanpa mengorbankan akar tradisionalnya.

Selanjutnya, Kopi Sari Murni, yang telah eksis sejak era 1950-an di Jatinegara, menawarkan biji kopi arabika dan robusta berkualitas tinggi, termasuk varietas Toraja dan Gayo. Kesederhanaan tokonya tidak mengurangi loyalitas pelanggan yang telah lama mengandalkan racikan kopi gilingnya. Keberadaan kedai-kedai seperti ini menegaskan bahwa daya tarik kopi tidak hanya terletak pada inovasi, tetapi juga pada warisan rasa yang stabil dan pengalaman nostalgia yang ditawarkan.

Bergeser ke kawasan Kayu Putih, P6 Belas hadir dengan konsep "rumah nenek zaman dulu" yang kental, lengkap dengan dekorasi vintage dan klasik, menciptakan suasana hangat yang mengundang. Meskipun mungkin tidak setua Toko Sedap Djaja atau Toko Kopi Bemo, P6 Belas berhasil menangkap esensi nostalgia, menyajikan kopi lokal dengan harga terjangkau mulai dari Rp 15.000. Kedai ini membuktikan bahwa nuansa "jadul" dapat direplikasi dan tetap relevan bagi konsumen modern yang mencari kedamaian di tengah hiruk pikuk kota.

Terakhir, Waroeng Nusantara turut menyumbangkan nuansa klasik dengan konsep "warkop" tradisional. Kedai-kedai ini berfungsi lebih dari sekadar tempat minum kopi; mereka adalah ruang interaksi sosial, tempat bertukar cerita, dan saksi bisu perubahan kota. Keberlanjutan mereka dalam menghadapi gempuran kafe-kafe baru yang menawarkan desain instagrammable dan internet cepat menunjukkan bahwa kekuatan budaya dan komunitas tetap menjadi fondasi kuat bagi bisnis kuliner.

Implikasi jangka panjang dari eksistensi kedai kopi jadul ini melampaui ranah ekonomi semata. Mereka menjadi benteng pelestarian identitas kuliner dan budaya Jakarta, sebuah pengingat akan masa lalu di tengah modernisasi yang tak terhindarkan. Tantangan bagi kedai-kedai ini adalah bagaimana menyeimbangkan tradisi dengan kebutuhan inovasi untuk menarik generasi baru, sekaligus memastikan bahwa warisan rasa dan pengalaman yang mereka tawarkan tidak lekang oleh waktu. Para pemilik kedai kopi legendaris ini secara tidak langsung memainkan peran krusial dalam menjaga narasi sejarah dan keragaman budaya kuliner Jakarta agar tetap hidup dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.