Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kuak 3 Resep Jajanan Jepang Autentik yang Bikin Nagih: Takoyaki dan Yakisoba

2026-01-15 | 19:43 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T12:43:01Z
Ruang Iklan

Kuak 3 Resep Jajanan Jepang Autentik yang Bikin Nagih: Takoyaki dan Yakisoba

Japan, sebuah negara yang identik dengan warisan kuliner yang kaya, terus memukau dunia dengan kelezatan jajanan kaki limanya yang penuh cita rasa, atau yang dikenal sebagai "konamon" di wilayah Kansai, hidangan berbasis tepung yang mampu memuaskan selera. Dari bola gurita Takoyaki yang ikonis hingga mi goreng Yakisoba yang kaya rasa dan panekuk gurih Okonomiyaki yang serbaguna, jajanan ini tidak hanya memuaskan lapar tetapi juga menceritakan kisah adaptasi, inovasi, dan kebanggaan lokal. Popularitas global makanan jalanan Jepang semakin meningkat, dengan "Japanese snacks" menunjukkan volume pencarian yang signifikan di Google Trends. Hal ini mencerminkan daya tarik yang kuat terhadap pengalaman kuliner autentik yang ditawarkan Jepang.

Takoyaki: Kreasi Gurita dari Osaka

Di jantung Dotonbori, Osaka, pada tahun 1935, seorang penjual makanan jalanan bernama Tomekichi Endo menciptakan takoyaki, bola-bola adonan berisi gurita yang kini menjadi simbol kuliner kota tersebut. Terinspirasi dari akashiyaki, hidangan lokal Hyogo yang menggunakan telur dan gurita, Endo mengadaptasi resepnya dari radioyaki yang sebelumnya berisi tendon sapi dan konjac. Takoyaki dibuat dengan adonan berbahan dasar tepung terigu dan dashi, diisi potongan gurita cincang atau dadu, remah tempura (tenkasu), acar jahe (beni shoga), dan daun bawang, kemudian dimasak dalam wajan khusus cetakan bola. Untuk menghasilkan kulit luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut, penggunaan minyak yang cukup dan teknik membalik yang terampil sangat penting. Setelah matang, takoyaki disajikan panas dengan saus takoyaki, mayones Jepang, taburan serpihan bonito (katsuobushi), dan serpihan rumput laut hijau (aonori). Mr. Yukihiro Kasai, pemilik "Creo-ru Co., Ltd." yang mengelola empat toko takoyaki, menyoroti bahwa takoyaki adalah hidangan yang lahir dari iklim dan sejarah Osaka, memanfaatkan gurita yang saat itu murah dan mudah didapat, serta bahan-bahan seperti rumput laut.

Yakisoba: Adaptasi Mi Goreng Asia yang Mendunia

Yakisoba, mi goreng khas Jepang, memiliki akar yang dalam pada chow mein Tiongkok dan mulai populer di Jepang pasca-Perang Dunia II sebagai makanan yang terjangkau dan mengenyangkan di tengah kelangkaan pangan. Meskipun namanya mengandung "soba", hidangan ini sebenarnya menggunakan mi gandum gaya Tiongkok (chuuka men), bukan mi soba dari tepung soba. Mi ini digoreng dengan potongan daging babi tipis (atau protein lain seperti ayam atau makanan laut), serta beragam sayuran seperti kubis, wortel, dan bawang bombay. Kunci kelezatan yakisoba terletak pada sausnya yang kental, manis, gurih, dan sedikit asam, sering kali berbasis saus Worcestershire. Menurut MasterClass, lima bahan penting yakisoba adalah mi chukamen, saus yakisoba (dapat dibeli atau dibuat sendiri dari campuran saus Worcestershire, saus tiram, kecap asin, mirin, dan saus tomat), daging babi, sayuran cepat matang seperti kubis hijau, dan tauge. Penting untuk memasak dengan api besar untuk menghindari mi menjadi lembek dan menambahkan saus di akhir proses untuk memastikan mi terlapisi sempurna tanpa menjadi terlalu basah. Popularitasnya di yatai (kedai makanan jalanan) selama festival dan acara lokal telah menjadikan yakisoba simbol kenyamanan dan kebersamaan di Jepang, dan kini telah menyebar ke seluruh dunia.

Okonomiyaki: Panekuk "Sesuai Seleramu"

Okonomiyaki, yang secara harfiah berarti "dimasak sesuai seleramu" atau "apa yang kamu suka", adalah panekuk gurih teppanyaki yang sangat serbaguna, memungkinkan adaptasi bahan sesuai preferensi individu. Akarnya dapat ditelusuri kembali ke funoyaki, sejenis penganan mirip krep yang disajikan dalam upacara Buddha pada periode Edo (1683-1868), kemudian berevolusi menjadi hidangan manis dan gurih. Okonomiyaki modern berkembang pesat setelah Perang Dunia II, ketika kelangkaan beras membuat tepung terigu yang didapat dari bantuan asing menjadi bahan pokok untuk hidangan yang murah dan mengenyangkan. Ada dua varian utama: gaya Kansai (Osaka) dan gaya Hiroshima. Okonomiyaki gaya Kansai mencampur semua bahan (adonan, kubis, isian seperti daging babi atau makanan laut) sebelum dimasak di atas teppan. Sementara itu, gaya Hiroshima dimasak berlapis-lapis, dimulai dengan adonan tipis seperti krep, ditumpuk dengan kubis, mi yakisoba, dan sering kali telur goreng, sebelum dilumuri saus khasnya. Shinobu, seorang blogger yang dikenal sebagai Little Japan Mama, menekankan bahwa esensi okonomiyaki adalah dashi (kaldu ikan katsuo), kubis, telur, dan tepung secukupnya untuk mengikatnya, bukan dalam jumlah tepung yang berlebihan. Saus okonomiyaki yang manis dan gurih, mayones Jepang, katsuobushi, dan aonori adalah pelengkap wajib yang menyempurnakan cita rasa hidangan ini.

Ketiga jajanan ini, takoyaki, yakisoba, dan okonomiyaki, bukan sekadar makanan, melainkan cerminan kekayaan sejarah dan budaya kuliner Jepang. Daya tarik mereka melampaui batas geografis, dengan 36% pengunjung internasional ke Jepang pada tahun 2023 menyebut "makan makanan Jepang" sebagai aktivitas yang paling dinantikan. Sektor pariwisata gastronomi ini, yang didukung oleh kolaborasi pemerintah-swasta, diperkirakan akan terus menjadi pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi Jepang, dengan pengeluaran wisatawan asing mencapai ¥7,2 triliun JPY antara Januari dan Maret 2024. Inovasi dalam makanan jalanan juga terlihat dengan munculnya hidangan fusion dan fokus pada presentasi kreatif, musik, dan penceritaan untuk melibatkan pelanggan. Seiring waktu, jajanan khas Jepang ini akan terus berevolusi, mempertahankan tradisi sambil merangkul adaptasi global, memastikan statusnya sebagai duta budaya Jepang yang lezat di panggung dunia.