
Soto Betawi, hidangan berkuah kental nan gurih yang telah menjadi ikon kuliner Ibu Kota, terus memikat selera masyarakat lintas generasi. Warisan kuliner ini, yang memadukan kekayaan rempah dengan santan atau susu, serta isian daging sapi dan jeroan, tidak sekadar mengenyangkan tetapi juga menyimpan narasi panjang akulturasi budaya di Jakarta. Keberadaannya, yang diperkirakan mulai populer pada awal abad ke-20 dan secara resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Provinsi Jakarta pada 2016, menjadi tulang punggung bagi sejumlah usaha kuliner legendaris yang hingga kini tetap mempertahankan resep autentik dan kualitas rasanya. Tujuh di antaranya menonjol sebagai destinasi wajib bagi penikmat soto Betawi sejati.
Soto Betawi H. Ma'ruf, yang berdiri sejak tahun 1940-an, mengawali perjalanannya sebagai pedagang keliling di kawasan Cikini dan Pasar Kembang, Jakarta Pusat. Kini, rumah makan ini terkenal dengan kuah santan dan susu yang kaya rempah, serta tekstur daging empuk, bahkan pernah dikunjungi oleh tokoh-tokoh penting seperti mendiang Gus Dur dan Presiden Joko Widodo. Konsistensi rasa ini menjadi daya tarik utama yang dipertahankan oleh generasi penerusnya.
Selanjutnya, Soto Betawi Haji Husen, yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1988, dikenal dengan kuah sotonya yang lembut dan melimpah, menawarkan beragam isian seperti daging sapi, kikil, paru, dan babat dengan harga yang relatif terjangkau. Lokasinya di Jalan Padang Panjang, Pasar Manggis, Jakarta Selatan, sering ramai pengunjung, terutama saat jam makan siang.
Soto Cawang, eksis sejak 1952, membedakan dirinya dengan penyajian soto di atas piring, serta kuah khas yang dibuat tanpa susu, hanya mengandalkan santan dan bumbu tradisional yang dimasak dengan kayu bakar. Keautentikan ini menjadikannya tempat klasik dengan cita rasa otentik yang dikenal luas oleh warga lokal.
Soto Betawi Afung, didirikan oleh Nyonya Afung pada tahun 1982, telah berkembang dan memiliki beberapa cabang di Jakarta. Dengan reputasi yang kuat akan kuah gurih dan isian daging, paru, babat, tomat, serta kentang, Soto Betawi Afung di Glodok menjadi pilihan favorit, bahkan tetap buka pada hari libur besar.
Soto Roxy H. Darwasa, yang dirintis oleh H. Darwasa pada tahun 1948, juga memiliki keunikan penyajian di piring cekung, bukan mangkuk. Usaha yang kini dikelola generasi ketiga ini mempertahankan racikan bumbu turun-temurun, seperti penggunaan cengkih, daun salam, pala, kayu manis, dan beragam rempah lainnya, menghasilkan kuah kaldu sapi kental dan santan yang kaya rasa.
Soto Betawi Babe Jamsari di kawasan Meruya, telah beroperasi sejak tahun 1975. Kedai ini menawarkan pilihan soto yang beragam dengan kuah kental gurih nan berempah, menarik banyak pelanggan setia untuk terus kembali.
Terakhir, Soto Betawi Bang Sawit, meskipun lokasinya juga menyebar hingga ke Bogor dan Tangerang, memiliki reputasi kuat di Jakarta dengan sajian soto Betawi gurih mengepul. Kedai ini dikenal dengan aneka menu lokal lainnya seperti nasi uduk dan mujair pecak, menunjukkan keberagaman kuliner Betawi yang diusungnya.
Pakar kuliner Indonesia, William Wongso, sering menekankan pentingnya mempertahankan tradisi kuliner lokal. Ia sendiri belajar dari pemilik warung pinggir jalan dan pasar tradisional untuk memahami kedalaman masakan daerah. Soto Betawi, dengan sejarahnya yang panjang sebagai perpaduan budaya Melayu, Minangkabau, Arab, India, hingga pengaruh Belanda, menunjukkan bagaimana adaptasi dan inovasi dapat mempertahankan relevansi suatu hidangan tradisional di tengah gempuran tren kuliner modern. Keberadaan tujuh soto legendaris ini tidak hanya melestarikan cita rasa, tetapi juga berkontribusi pada ekonomi lokal dan menjaga identitas budaya Jakarta yang multikultural. Tantangan modernisasi dan persaingan ketat memerlukan strategi adaptif dari para pelaku usaha ini, namun dedikasi pada resep asli dan kualitas bahan menjadi kunci kelangsungan mereka.