Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Rahasia Misro Legit: Resep Camilan Singkong Parut Warisan Nusantara

2026-01-04 | 11:43 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T04:43:19Z
Ruang Iklan

Rahasia Misro Legit: Resep Camilan Singkong Parut Warisan Nusantara

Di tengah gempuran aneka sajian modern, misro, camilan tradisional khas Sunda dari singkong parut isi gula merah, tetap mempertahankan popularitasnya sebagai warisan kuliner yang tak lekang oleh waktu, menjadi simbol ketahanan pangan lokal sekaligus penopang ekonomi kerakyatan di berbagai pelosok Jawa Barat. Masyarakat, akademisi, dan pemerintah kini menyoroti potensi singkong dan olahannya seperti misro, tidak hanya sebagai penganan nostalgia, tetapi juga sebagai pilar penting dalam diversifikasi pangan nasional.

Misro, akronim dari frasa Sunda "amis di jero" yang berarti "manis di dalam", telah lama menjadi bagian integral dari khazanah kuliner masyarakat pedesaan Jawa Barat, khususnya daerah Priangan. Kudapan sederhana ini mulanya dibuat sebagai camilan keluarga, memanfaatkan melimpahnya hasil panen singkong di wilayah tersebut. Seiring waktu, misro bertransformasi menjadi jajanan pasar yang digemari lintas generasi. Proses pembuatannya yang relatif mudah, melibatkan singkong parut yang diperas sedikit airnya, dibentuk pipih, diisi gula merah sisir, lalu digoreng hingga keemasan, menghasilkan tekstur renyah di luar dan lembut dengan lelehan gula manis di dalam. Untuk mendapatkan misro yang "legit", pakar kuliner menyarankan penggunaan singkong yang segar dan baru dicabut, bahkan beberapa resep otentik menambahkan kelapa parut untuk memperkaya aroma dan rasa gurih.

Peran singkong sebagai bahan dasar misro tidak terlepas dari sejarah panjang umbi ini di Indonesia. Singkong, yang diyakini berasal dari Peru dan dibawa masuk oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1850, dengan cepat beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia. Meskipun sempat dicap sebagai "makanan marginal" atau "makanan kelas bawah", singkong terbukti menjadi penyelamat di kala paceklik dan krisis pangan, menjamin ketersediaan bahan pokok bagi masyarakat. Lebih dari itu, singkong memiliki nilai gizi yang signifikan, kaya karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral, serta memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih atau kentang, menjadikannya pilihan pangan yang sehat.

Secara ekonomi, singkong memegang peranan krusial. Indonesia tercatat sebagai produsen singkong terbesar keempat di dunia, dengan produksi mencapai 18,3 juta ton pada tahun 2023. Provinsi-provinsi seperti Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menjadi sentra produksi utama. Potensi besar ini mendorong diversifikasi produk olahan singkong, yang mampu meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Olahan singkong tradisional, termasuk misro, tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik tetapi juga mulai merambah pasar global. Pada tahun 2020, ekspor produk singkong beku Indonesia mencapai 16.529 ton dengan nilai 9,7 juta dolar AS, menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya.

Upaya pelestarian kuliner tradisional seperti misro juga terus digalakkan. Sejarawan makanan dari Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, menekankan bahwa pelestarian kuliner tradisional dapat dimulai dari rumah, dengan memperkenalkan makanan lokal kepada keluarga dan mempelajari sejarahnya. Hal senada disampaikan oleh Prof. Dr. Rudy Harjanto MSn, pakar komunikasi massa dari LSPR Communication & Business Institute, yang menyatakan bahwa kuliner memiliki peran sentral dalam membentuk identitas lokal dan nasional, serta menjadi medium efektif untuk memperkenalkan budaya kepada dunia. Penjabat Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin, dalam kunjungannya ke Kampung Adat Cireundeu pada Oktober 2024, mengapresiasi masyarakat yang telah menjaga tradisi konsumsi singkong sebagai kearifan lokal yang memperkuat ketahanan pangan Jawa Barat. "Makanannya enak sekali dan ini bukan hanya soal rasa, tapi juga nilai yang lebih dalam," ujar Bey Machmudin, seraya menyoroti potensi ekonomi dan keberlanjutan tradisi ini.

Keberadaan misro dan camilan berbasis singkong lainnya menggarisbawahi pentingnya menjaga keberagaman pangan dan kearifan lokal dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan masa depan. Dengan dukungan berkelanjutan terhadap petani singkong, inovasi pengolahan, serta upaya promosi dan edukasi, misro bukan sekadar camilan jadul, melainkan representasi kekayaan budaya dan potensi ekonomi yang berkelanjutan bagi Indonesia.