
Kwetiau, mi pipih berbahan dasar tepung beras yang kaya sejarah, telah lama mengakar kuat dalam lanskap kuliner Indonesia, menawarkan solusi makan malam yang cepat dan memuaskan bagi jutaan orang. Hidangan yang berasal dari Tiongkok ini berevolusi menjadi hidangan pokok yang digemari secara nasional, tersedia dalam berbagai bentuk mulai dari pedagang kaki lima hingga restoran mewah, mencerminkan adaptasi budaya dan preferensi lokal yang mendalam.
Mi kwetiau, yang dalam bahasa Hokkian dikenal sebagai "guǒ tiáo" atau "shā hé fěn" di Tiongkok, dibawa ke Nusantara pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 oleh migrasi masyarakat Tionghoa. Makanan ini pertama kali dikenal di daerah Fujian dan Guangdong di Tiongkok Selatan, di mana masyarakat mengembangkan berbagai jenis mi dari bahan non-gandum seperti beras. Di Indonesia, kwetiau bertransformasi untuk menyesuaikan selera lokal dan mayoritas populasi Muslim, dengan penggantian daging babi dan lemak babi menjadi daging sapi, ayam, atau makanan laut. Proses akulturasi ini telah menjadikan kwetiau bukan sekadar hidangan etnis, melainkan simbol perpaduan budaya yang terus berkembang dalam kekayaan kuliner Indonesia.
Popularitas kwetiau di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari ketersediaannya yang luas dan harganya yang terjangkau, menjadikannya pilihan favorit di berbagai lapisan masyarakat. Preferensi masyarakat Indonesia terhadap hidangan mi juga tercermin dari data konsumsi mi instan yang signifikan. Indonesia menempati peringkat kedua secara global dalam konsumsi mi instan, dengan 14,68 miliar porsi pada tahun 2024, menunjukkan tren konsumsi yang stabil dan terus meningkat sejak 2020. Fenomena ini menggarisbawahi peran penting hidangan mi, termasuk kwetiau, sebagai bagian integral dari pola makan sehari-hari.
Dari perspektif nutrisi, satu porsi kwetiau goreng dapat mengandung kalori antara 310 hingga 700, dengan sebagian besar kalori berasal dari karbohidrat (sekitar 50-60%). Kandungan lemaknya juga bisa tinggi, mencapai sekitar 7-12 gram per porsi, tergantung pada bahan tambahan seperti minyak dan protein. Ahli gizi sering mengingatkan konsumen untuk mempertimbangkan komposisi nutrisi dan jumlah konsumsi, terutama jika disajikan dengan banyak minyak atau daging berlemak, demi menjaga keseimbangan diet. Kwetiau yang terbuat dari tepung beras sebagian besar tersusun dari karbohidrat, menjadikannya sumber energi yang mengenyangkan.
Bagi sajian makan malam, kwetiau menawarkan tiga varian utama yang lezat dan dapat disesuaikan:
1. Kwetiau Goreng: Varian ini merupakan hidangan mi pipih yang digoreng kering dengan perpaduan rasa gurih dari saus, manis dari kecap, dan aroma wangi dari bumbu. Kwetiau goreng biasanya melibatkan penambahan kecap manis, kecap asin, saus tiram, serta beragam protein seperti daging sapi, ayam, atau makanan laut, dilengkapi dengan sayuran seperti sawi hijau dan tauge. Proses penggorengan yang cepat dalam wajan besar menghasilkan cita rasa khas dengan sentuhan gosong yang nikmat.
2. Kwetiau Kuah: Menyajikan kenyamanan dalam semangkuk hangat, kwetiau kuah disajikan dalam kaldu gurih. Variasi populer sering menggunakan kaldu udang atau ayam sebagai dasar, dilengkapi dengan udang kupas, sawi hijau, seledri, jahe, dan bawang putih cincang. Hidangan ini ideal untuk cuaca dingin atau sebagai pilihan makan malam yang lebih ringan dibandingkan versi goreng.
3. Kwetiau Siram: Kwetiau siram menawarkan pengalaman rasa yang lebih kaya dan bertekstur kental. Mi kwetiau disiram dengan kuah kental yang kaya rasa, sering kali mengandung daging sapi, ayam, atau makanan laut, serta beragam sayuran. Kuah kental ini dibuat terpisah dan dituang di atas mi, menciptakan hidangan yang memanjakan lidah dengan perpaduan gurih, pedas, dan manis yang disesuaikan dengan selera lokal.
Kwetiau terus menempati posisi sentral dalam kekayaan kuliner Indonesia, menunjukkan bagaimana tradisi kuliner Tionghoa berintegrasi dan beradaptasi secara dinamis dengan budaya lokal. Kehadirannya yang meresap dari warung kaki lima hingga restoran modern menunjukkan ketahanannya sebagai hidangan favorit. Adaptasi berkelanjutan pada bahan dan rasa, sambil mempertahankan esensi aslinya, memastikan kwetiau akan terus menjadi pilihan makan malam yang relevan dan digemari di masa depan.