
Konsumsi camilan rumahan yang praktis seperti sandwich gulung isi keju sosis semakin menjadi pilihan utama rumah tangga Indonesia, mencerminkan pergeseran pola makan di tengah gaya hidup serba cepat dan tekanan ekonomi. Fenomena ini menggarisbawahi tren berkelanjutan dari peningkatan aktivitas memasak di rumah pascapandemi COVID-19 serta kebutuhan akan solusi makanan yang efisien dan hemat biaya. Sejak pandemi merebak, sebanyak 69% responden di Indonesia memilih untuk lebih sering memasak di rumah, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan angka 42% sebelum pandemi.
Pergeseran ini diperkuat oleh data terbaru yang menunjukkan peningkatan kebiasaan ngemil di kalangan masyarakat. Survei "State of Snacking 2024" oleh Mondelez Indonesia mengungkapkan bahwa rata-rata konsumsi camilan masyarakat mencapai tiga kali sehari, melebihi frekuensi makan utama yang hanya dua kali sehari. Sebanyak 73% responden bahkan menyatakan tidak bisa hidup tanpa camilan, menyoroti peran pentingnya dalam gaya hidup modern. Dalam konteks ini, camilan seperti sandwich gulung isi keju sosis, yang memadukan kepraktisan dengan bahan-bahan populer, menjadi relevan.
Peningkatan pengeluaran rumah tangga untuk makanan juga turut memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih makanan olahan rumahan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran masyarakat Indonesia untuk makanan naik 5,69% pada tahun 2024. Proporsi pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk makanan di Provinsi Lampung, misalnya, mencapai 56,91% dari total pengeluaran pada tahun 2023, menunjukkan alokasi anggaran yang besar untuk kebutuhan pangan. Resep camilan yang dapat dibuat di rumah dengan bahan-bahan terjangkau menawarkan alternatif untuk mengelola anggaran rumah tangga di tengah inflasi dan perubahan harga komoditas pangan.
Kombinasi keju dan sosis, meskipun merupakan bahan olahan, tetap digemari. Data BPS tahun 2023 menunjukkan konsumsi daging olahan matang (sosis, nugget, daging asap, dsb.) mencapai 0,499 per kapita per minggu. Konsumsi keju juga tercatat, khususnya di perkotaan, sebesar 0,02 ons per kapita per bulan. Daya tarik rasa gurih dan tekstur yang familiar dari bahan-bahan ini berkontribusi pada popularitas camilan sejenis.
Namun, tren camilan praktis ini juga memunculkan sorotan dari perspektif gizi. Ahli gizi Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si, menekankan bahwa camilan seharusnya tetap bergizi untuk mendukung tumbuh kembang optimal, menyarankan pilihan seperti buah potong segar, jagung rebus, atau ubi kukus dibandingkan jajanan tinggi gula, garam, dan pewarna buatan. Ahli gizi lain juga menyoroti bahwa banyak camilan tidak sehat mudah ditemukan, enak, murah, dan membuat ketagihan, meskipun tinggi gula, garam, dan lemak. Resep seperti sandwich gulung isi keju sosis, meskipun dibuat di rumah, seringkali menggunakan bahan olahan yang perlu dipertimbangkan dalam konteks asupan gizi harian.
Ke depan, permintaan akan makanan yang mudah disiapkan di rumah diperkirakan akan terus tumbuh, seiring dengan evolusi preferensi konsumen yang semakin mempertimbangkan faktor kepraktisan, harga, dan kesehatan. Industri makanan dan minuman di Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 5% pada tahun 2024. Keseimbangan antara kemudahan persiapan, cita rasa yang memuaskan, dan nilai gizi akan menjadi penentu dalam popularitas jenis camilan rumahan semacam ini di masa mendatang.