
Di tengah dominasi durian Musang King Malaysia di pasar buah premium, sebuah varietas lokal dari Kabupaten Bangka Barat, Durian Super Tembaga, kini mencuat dengan harga fantastis mencapai Rp 1,5 juta per kilogram, menantang hegemoni "Raja Buah" impor tersebut. Durian yang juga dikenal sebagai Durian Super Tembaga Klamunod ini menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar durian dan pelaku industri kuliner Indonesia, menunjukkan potensi besar buah tropis unggulan Nusantara.
Kenaikan signifikan harga Durian Super Tembaga bukan tanpa alasan. Durian ini menawarkan karakteristik unik yang membedakannya dari varietas lain. Daging buahnya memiliki warna kuning-oranye menyerupai tembaga, tebal, bertekstur lembut, dan creamy, dengan biji yang relatif kecil. Rasanya dikenal istimewa, menggabungkan manis yang sangat tinggi, sentuhan pahit yang seimbang, serta aroma alkoholik yang kuat namun tidak menyengat. Keunikan cita rasa dan penampilannya inilah yang menempatkannya dalam kategori durian premium dan menjadi favorit para pecinta durian. Varietas ini bahkan telah diakui sebagai durian unggul nasional pada tahun 2023 setelah memenangkan festival durian, menyusul pendaftarannya pada tahun 2017.
Fenomena Durian Super Tembaga ini merefleksikan dinamika pasar durian premium di Indonesia yang semakin menghargai varietas lokal dengan kualitas superior. Selama ini, pasar premium cenderung didominasi oleh durian impor seperti Musang King dari Malaysia, yang saat ini dijual di kisaran Rp 400.000 hingga Rp 500.000 per kilogram di Indonesia. Meskipun ada kabar mengenai penurunan harga Musang King di Malaysia, para pelaku pasar di Indonesia, seperti Direktur Utama Durian Traveler Alief Al Badri, menegaskan bahwa hal tersebut tidak berdampak pada harga durian Musang King di pasar domestik Indonesia. Kemunculan Durian Super Tembaga dengan harga yang jauh melampaui Musang King menunjukkan pergeseran preferensi dan peningkatan apresiasi terhadap durian lokal yang dikelola secara profesional.
Di balik harga premium Durian Super Tembaga, terdapat upaya serius dalam budidaya dan pengembangan. Pohon durian ini dikenal genjah, mampu berbuah dalam 3-4 tahun setelah tanam dengan bibit hasil okulasi atau cangkok, dan panen dapat dilakukan 120 hari setelah bunga mekar. Meskipun memiliki potensi besar, budidayanya menghadapi tantangan. Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Distangan Kabupaten Bangka Barat, Aryanto, mengungkapkan bahwa produksi Durian Super Tembaga Klamunod mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir akibat faktor cuaca ekstrem seperti hujan yang sering terjadi, serta kendala lahan dan biaya perawatan yang mahal. Pemerintah Kabupaten Bangka Barat berencana melakukan pengembangan kawasan budidaya dengan bantuan bibit dan pupuk dari APBN untuk menggenjot produksi durian unggul ini.
Durian Super Tembaga tidak hanya menjadi komoditas kuliner, tetapi juga pendorong ekonomi bagi petani lokal. Beberapa petani di Bangka Selatan, seperti Heri alias Bujang, dilaporkan meraup keuntungan puluhan juta rupiah setiap musim panen dari durian lokal mereka. Potensi ekonomi durian premium ini sangat menjanjikan. Anna Luthfi, pemilik Republik Durian Farm, menyatakan bahwa satu hektar kebun durian dengan 100 pohon dapat menghasilkan keuntungan hingga Rp 2 miliar dalam empat sampai lima tahun. Potensi ini menarik perhatian pejabat seperti Calon Gubernur Jawa Timur terpilih Khofifah Indar Parawansa, yang mendorong penanaman durian premium seperti Black Thorn dan Musang King di Blitar untuk menembus pasar ekspor.
Secara makro, Indonesia adalah produsen durian terbesar di dunia, dengan produksi mencapai 1,37 juta ton pada tahun 2022. Namun, menurut Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Prihasto Setyanto pada April 2023, Indonesia masih tertinggal jauh dalam ekspor durian, menempati peringkat kelima di Asia Tenggara, di bawah Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Sekitar 90 persen produksi durian nasional masih untuk konsumsi domestik. Tantangan utama ekspor durian Indonesia meliputi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Banyak durian lokal tumbuh alami tanpa budidaya optimal, menyebabkan kualitas buah sangat beragam.
Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Koordinator Bidang Perdagangan Zulkifli Hasan, terus berupaya membuka keran ekspor durian segar ke Tiongkok, dengan estimasi potensi pasar sebesar US$8 miliar atau sekitar Rp 129 triliun per tahun. Saat ini, Indonesia mayoritas mengekspor durian dalam bentuk pasta, dan upaya untuk mengekspor durian utuh secara langsung ke Tiongkok terus diusahakan, dengan kunjungan tim Tiongkok dijadwalkan pada Januari 2025 untuk meninjau rantai pasok dari hulu hingga hilir. Pengembangan durian lokal unggulan seperti Super Tembaga dengan manajemen nutrisi dan teknologi modern, seperti yang ditekankan dalam seminar mengenai Durian Klamunod pada Oktober 2024, sangat krusial untuk memenuhi standar pasar internasional dan mengoptimalkan potensi ekspor. Dengan terus meningkatkan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas, Durian Super Tembaga berpotensi besar menjadi ikon durian premium Indonesia yang tidak hanya mendominasi pasar domestik, tetapi juga bersaing secara signifikan di panggung global.