Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

5 Kuliner Legendaris Tegal: Jejak Rasa 100 Tahun yang Wajib Dicicipi

2026-01-01 | 18:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T11:33:42Z
Ruang Iklan

5 Kuliner Legendaris Tegal: Jejak Rasa 100 Tahun yang Wajib Dicicipi

TEGAL, Jawa Tengah — Di tengah geliat modernisasi industri kuliner, lima destinasi kuliner legendaris di Kota Tegal tetap tegak berdiri, menawarkan cita rasa otentik yang telah diwariskan lintas generasi, bahkan salah satunya mendekati usia satu abad. Keberadaan warung-warung ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan perut, melainkan menjadi pilar penopang identitas budaya dan ekonomi lokal, menarik pengunjung dari berbagai penjuru untuk mencicipi sepotong sejarah Tegal.

Warung Pi’an, sebuah nama yang tak asing bagi penikmat kuliner Tegal, telah melayani pelanggan setianya sejak tahun 1926, menjadikannya salah satu institusi kuliner tertua di kota ini yang kini telah berusia 98 tahun dan segera merayakan satu abad eksistensinya. Dikelola oleh generasi ketiga, Warung Pi'an tetap mempertahankan metode memasak tradisional menggunakan arang, menghadirkan Nasi Lengko dengan paduan tahu, tempe goreng, mentimun, tauge, disiram bumbu kacang dan kecap manis, serta dilengkapi taburan bawang goreng dan kerupuk mie renyah. Selain nasi lengko, warung ini juga terkenal dengan sate kambing muda, gulai kambing, dan sop ayam, menjadikannya rujukan utama bagi para pemudik dan wisatawan yang mencari rasa asli Tegal. Konsistensi dalam menjaga kualitas dan resep asli menjadi kunci kelanggengan Warung Pi'an di tengah persaingan ketat industri makanan.

Tidak jauh berbeda, Nasi Lengko Gang Kimto, yang telah berjualan sejak tahun 1960, juga menunjukkan ketahanan warisan kuliner. Kini dikelola oleh generasi ketiga, warung yang dulunya berjualan dengan pikulan ini terkenal dengan racikan bumbu kacangnya yang gurih dan sedikit manis, serta penggunaan tahu yang direbus dengan tungku kayu bakar sehingga menghasilkan tekstur setengah matang yang khas. Hidangan sederhana ini, dengan potongan tahu, mentimun, tauge, bumbu kacang, kecap, dan kerupuk, telah membentuk loyalitas pelanggan yang mencari cita rasa tradisional yang tak lekang oleh waktu.

Sate Kambing Batibul Bang Awi, yang mulai populer sejak 1996, merepresentasikan kebanggaan Tegal dalam olahan daging kambing. Istilah "batibul" sendiri merujuk pada kambing berusia "bawah tiga bulan," menjamin daging yang empuk, juicy, dan hampir bebas bau prengus, bahkan tanpa banyak bumbu. Penyajiannya yang otentik dengan kecap manis kental khas Tegal, irisan tomat, bawang, dan cabai rawit, telah menarik perhatian berbagai kalangan, termasuk Presiden Joko Widodo yang pernah singgah untuk menikmati kelezatannya. Dalam sehari, warung ini mampu mengolah hingga 25 ekor kambing batibul saat ramai, menunjukkan skala operasional yang signifikan sekaligus komitmen terhadap kesegaran bahan baku melalui pemotongan sendiri.

Kupat Glabed Ibu Wartini, yang telah beroperasi sejak 1980 dan kini di tangan generasi ketiga, menonjolkan kekentalan kuahnya yang menyerupai bumbu rendang, sebuah karakteristik yang memberinya nama "glabed," berarti kental dalam dialek Tegal. Sajian ini berupa potongan ketupat yang disiram kuah kuning kental, ditemani tempe, sayuran kuning, sambal merah, dan topping kerupuk mie kuning yang melimpah. Pelengkapnya bervariasi dari sate ayam, sate kerang, hingga sate kikil. Lokasinya di Jalan Ayam Nomor 1 Kecamatan Randugunting telah menjadi sentra bagi penikmat kupat glabed, di mana warung ini mampu menghabiskan sekitar 100 porsi per hari dengan omzet mencapai Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta.

Melengkapi jajaran kuliner legendaris Tegal adalah Rujak Teplak Depan Toko Mitra, yang telah berjualan lebih dari empat dekade. Hidangan unik ini adalah semacam salad sayuran rebus seperti kangkung, lembayung, daun ubi jalar, daun pepaya, daun singkong, tauge, jantung pisang, pare, dan timun, yang disiram dengan "sambal gaul" khas Tegal. Keistimewaan sambal ini terletak pada penggunaan singkong rebus yang dihaluskan, memberikan tekstur dan rasa berbeda dibandingkan rujak pada umumnya. Rujak teplak, yang sering disantap sebagai menu sarapan, menegaskan kekayaan kuliner Tegal dalam memanfaatkan hasil bumi lokal menjadi sajian yang sehat dan bercita rasa kuat.

Keberlanjutan warung-warung ini tidak lepas dari dedikasi generasi penerus yang berpegang teguh pada resep dan tradisi. Di tengah tantangan modernisasi dan standarisasi, upaya menjaga keaslian rasa dan pengalaman bersantap tradisional menjadi esensial untuk melestarikan warisan budaya Tegal, sekaligus terus menjadi daya tarik signifikan bagi pariwisata kuliner regional. Pertumbuhan sektor ini secara tidak langsung turut menggerakkan ekonomi mikro dan menengah di sekitarnya, memperkuat posisi Tegal sebagai salah satu destinasi kuliner terkemuka di jalur pantura Jawa.