Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tsukiji Tutup Pintu untuk Turis Liburan: Menguak Alasan Pasar Ikonik Ini

2025-12-22 | 14:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T07:31:22Z
Ruang Iklan

Tsukiji Tutup Pintu untuk Turis Liburan: Menguak Alasan Pasar Ikonik Ini

Tokyo, Jepang— Manajemen Pasar Luar Tsukiji telah mengeluarkan imbauan kepada wisatawan, terutama kelompok tur terpandu, untuk menahan diri mengunjungi pasar yang padat ini selama musim liburan akhir tahun ini. Keputusan tersebut diambil sebagai langkah preventif untuk mengatasi masalah keamanan akibat kepadatan berlebihan dan gangguan terhadap aktivitas komersial yang penting menjelang perayaan Tahun Baru Jepang.

Himbauan yang dikeluarkan oleh Dewan Pengembangan Kota Makanan Tsukiji, dan didukung oleh Asosiasi Manajemen Pasar Luar Tsukiji, muncul setelah insiden-insiden berbahaya yang dilaporkan pada periode akhir tahun sebelumnya, ketika kepadatan pengunjung menyebabkan beberapa orang cedera. Pasar, yang secara historis dirancang untuk profesional layanan makanan dan pembeli lokal, kini menghadapi status "overtourism" sejak Olimpiade Tokyo, menurut Ketua Asosiasi, Kitada. Himbauan ini berlaku sepanjang bulan Desember 2025.

Sejak relokasi pasar grosir bagian dalam Tsukiji ke Toyosu pada tahun 2018, Pasar Luar Tsukiji yang ramai tetap menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman kuliner otentik Jepang. Namun, arus masuk wisatawan internasional, yang mencapai rekor 36,87 juta pada tahun 2024 dengan peningkatan 7% dibandingkan tingkat pra-pandemi, telah menciptakan tekanan signifikan pada lorong-lorong sempit pasar yang tidak dirancang untuk menampung keramaian massal. Pada awal 2024 saja, Tokyo mengalami peningkatan 42% dalam jumlah turis lokal dan asing dibandingkan periode yang sama tahun 2019.

Kepadatan yang ekstrem ini telah menyebabkan sejumlah masalah, termasuk kemacetan parah yang membuat jalur menjadi hampir tidak bisa dilewati, menghalangi lalu lintas kendaraan, dan akses darurat. Poster-poster telah dipasang di pusat informasi pasar sejak 1 Desember, meminta pengunjung untuk tidak makan sambil berjalan dan menghindari tur terpandu, yang memperparah kemacetan karena wisatawan sering berhenti untuk berfoto atau mendengarkan penjelasan. Praktik seperti membuang sampah sembarangan juga menjadi masalah yang semakin serius.

Bagi pembeli lokal yang mengandalkan Tsukiji untuk mendapatkan bahan makanan penting untuk perayaan Tahun Baru Jepang, seperti hidangan Osechi tradisional, pengalaman berbelanja menjadi sangat sulit. Seorang pembeli untuk keperluan komersial mengeluhkan, "Berbelanja di Tsukiji musim ini memakan banyak waktu sehingga merepotkan." Beberapa pedagang melaporkan kehilangan pelanggan setia karena kondisi pasar yang terlalu ramai. Selain itu, banyak toko beroperasi dengan kapasitas terbatas, tutup lebih awal, atau memprioritaskan pesanan yang sudah diatur, menyebabkan pengalaman kunjungan wisatawan menjadi kurang optimal.

Himbauan Tsukiji ini mencerminkan bagian dari perdebatan "overtourism" yang lebih luas di Jepang, di mana destinasi populer lainnya seperti Kyoto, Kamakura, dan Gunung Fuji juga menghadapi tantangan serupa terkait kepadatan berlebihan dan dampaknya pada kehidupan sehari-hari penduduk lokal. Sementara pemerintah Jepang terus mempromosikan pertumbuhan pariwisata yang agresif, otoritas lokal dan pemangku kepentingan masyarakat semakin menyerukan alat manajemen pengunjung yang lebih kuat.

Sebagai alternatif, fasilitas wisata Toyosu Senkyaku Banrai, yang terletak di samping pasar grosir Toyosu yang baru dibuka pada Februari 2024, secara aktif menyambut wisatawan selama musim liburan akhir tahun. Fasilitas ini menawarkan sekitar 70 toko dan restoran dalam suasana yang mereplikasi jalanan periode Edo, menyediakan pilihan kuliner modern dengan bahan-bahan segar dari pasar Toyosu. Langkah ini menyoroti upaya untuk mengelola aliran wisatawan dan menyelaraskan antara manfaat ekonomi dari pariwisata dengan kebutuhan untuk menjaga fungsi dan keselamatan komunitas lokal.