Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Tersembunyi di Pasar: 5 Kedai Kopi Legendaris Pembawa Nostalgia Sejati

2025-12-07 | 16:54 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-07T09:54:06Z
Ruang Iklan

Tersembunyi di Pasar: 5 Kedai Kopi Legendaris Pembawa Nostalgia Sejati

Di tengah hiruk pikuk pasar tradisional yang tak pernah sepi, tersimpan permata tersembunyi bagi para pencinta kopi: toko-toko kopi legendaris yang menawarkan bukan hanya seduhan nikmat, tetapi juga perjalanan nostalgia ke masa lalu. Kedai-kedai ini, yang sering kali 'nyempil' di antara lapak pedagang, telah membuktikan ketahanan mereka selama puluhan tahun, bahkan melampaui usia kemerdekaan bangsa. Suasana otentik, aroma kopi yang menguar, serta cerita yang diwariskan lintas generasi menjadi daya tarik utama yang tak lekang oleh waktu.

Salah satu yang patut disambangi adalah Kopi Bis Kota, atau yang juga dikenal dengan Toko Sedap Djaja, di Pasar Mester Jatinegara, Jakarta Timur. Kedai ini telah beroperasi sejak tahun 1943, dua tahun sebelum Indonesia merdeka, menjadikannya saksi bisu sejarah panjang Jakarta. Diracik oleh Wong Hin, kopi bubuk berbahan dasar biji kopi Jawa diolah menggunakan metode tradisional yang masih dipertahankan oleh generasi kedua pengelolanya. Selain varian robusta dan arabika, Kopi Bis Kota juga menawarkan kopi WB (webe) dari biji kopi yang belum matang, memberikan pengalaman rasa yang unik dan kuat kafeinnya. Meskipun tampil sederhana, kedai ini tetap menjadi rujukan bagi warga sekitar yang mencari kopi lokal dengan karakter kuat.

Bergerak ke jantung Jakarta Pusat, tepatnya di lantai dasar Metro Atom Plaza, Pasar Baru, terdapat Toko Kopi Afung. Berdiri sejak tahun 1980-an dan kini dikelola oleh generasi keempat, Toko Kopi Afung menawarkan beragam kopi Nusantara, mulai dari Gayo Aceh, Mandailing Medan, Toraja, hingga Kintamani Bali. Harga per kilogramnya berkisar antara Rp 70.000 hingga Rp 150.000, dan pembeli dapat membelinya per gram. Pelanggannya tak hanya masyarakat umum, melainkan juga pemilik kafe yang berbelanja dalam jumlah besar, bahkan kopi Afung pun pernah diekspor hingga ke Taiwan.

Di sisi timur Jakarta, ada sebuah "surga kopi tersembunyi" di Pasar Perumnas Klender, Duren Sawit, yaitu Toko Kopi Delima. Meskipun tidak sepopuler beberapa nama besar lainnya, Toko Kopi Delima memiliki pelanggan setia yang terus berdatangan untuk menikmati beragam pilihan biji kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Di sini, Anda bisa menemukan Robusta Flores, Sindikalang, Gayo, hingga Arabika Bajawa Natural, dengan kisaran harga mulai dari Rp 30.000. Kesederhanaan tokonya justru menambah nuansa nostalgia saat memilih biji kopi berkualitas.

Menyeberang ke Surabaya, Toko Kopi Sigan di Jalan Cendrawasih Nomor 8, Krembangan Selatan, menjadi destinasi wajib bagi penikmat kopi yang merindukan suasana tempo dulu. Diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1950-an, beberapa sumber bahkan menyebutkan sejak 1940-an, kedai ini awalnya dikenal dengan nama Toko Kopi Swiekhay. Salah satu daya tarik utamanya adalah arsitektur bangunan yang masih mempertahankan gaya lawas, dengan lantai ubin bermotif klasik, kursi besi vintage, dan rak-rak kayu penuh barang antik yang dulunya bagian dari toko kelontong dan alat tulis. Proses pembuatan kopi di sini pun masih unik, diaduk dalam ceret dan dibakar dengan arang, bukan gas, memberikan cita rasa khas yang tak ditemukan di tempat lain. Kopi Sigan menawarkan seduhan kopi dan biji kopi asli dari Bali dan Aceh.

Terakhir, di Kota Kembang, Bandung, ada Kopi Kapal Selam yang berlokasi di Jalan Pasar Barat, Kebon Jeruk. Berdiri sekitar tahun 1930, nama "Kapal Selam" konon terinspirasi dari peristiwa Perang Dunia II. Toko ini menjual bubuk kopi, bubuk kasar, biji kopi, dan aneka kopi Nusantara. Daya tarik nostalgia juga diperkuat dengan dipamerkannya aneka mesin kopi jadul, membawa pengunjung seolah kembali ke era lampau. Kesederhanaan dan sejarah panjangnya menjadikan Kopi Kapal Selam salah satu ikon kopi legendaris di pasar tradisional Bandung.

Kelima toko kopi ini membuktikan bahwa di tengah gempuran kafe modern, pesona kopi yang "nyempil" di pasar dengan suasananya yang bikin nostalgia tetap memiliki tempat istimewa di hati para pencinta kopi. Mereka adalah penjaga tradisi dan warisan rasa yang terus hidup di tengah dinamika perkotaan.