
Dalam lanskap kuliner yang terus berkembang, sebuah tren inspiratif muncul di berbagai daerah, di mana sejumlah tempat makan tidak hanya menyajikan hidangan lezat, tetapi juga menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan kerja yang inklusif bagi penyandang tunarungu. Inisiatif mulia ini tidak hanya memberikan kesempatan kerja yang setara, tetapi juga membangun jembatan komunikasi antara komunitas tuli dan dengar, serta menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya dan meraih kesuksesan.
Salah satu perintis dalam gerakan ini adalah Kopi Tuli, atau yang akrab disapa Koptul. Didirikan pada tahun 2018 di Depok, kedai kopi ini secara eksklusif mempekerjakan individu tunarungu sebagai barista, pelayan, dan kasir. Pemiliknya, Mohammad Andhika Prakoso, yang juga seorang penyandang tunarungu, memiliki visi untuk memberdayakan komunitas tuli. Kopi Tuli bahkan mendorong pengunjung untuk berinteraksi menggunakan bahasa isyarat sederhana, dengan panduan yang tersedia pada kemasan produk mereka.
Kemudian ada Deaf Cafe Fingertalk, sebuah kafe di Depok yang dikelola oleh pemuda-pemudi tunarungu. Kafe ini bertujuan menjadi wadah pertemuan bagi komunitas tunarungu dan masyarakat dengar, menawarkan pengalaman kuliner yang menyenangkan dan ramah bagi semua. Tidak hanya sebatas kafe, Fingertalk juga telah mengembangkan unit usaha lain seperti toko roti, tempat cuci mobil, dan bengkel kerajinan tangan, yang secara total mempekerjakan lebih dari 30 penyandang disabilitas di Jawa dan Sulawesi.
Sunyi Coffee, dengan cabang pertamanya di Fatmawati, Jakarta Selatan, merupakan contoh lain dari kafe yang memberdayakan staf disabilitas secara menyeluruh. Hampir seluruh karyawannya, mulai dari barista, juru masak, kasir, hingga pelayan, adalah penyandang disabilitas, termasuk tunarungu, tunanetra, dan tunadaksa. Kafe ini menawarkan hidangan otentik Indonesia dan secara rutin memberikan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan staf. Pengunjung di Sunyi Coffee dapat berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat, dengan panduan yang disediakan untuk memudahkan interaksi.
Selanjutnya, DignityKu hadir sebagai perusahaan sosial di Jakarta Selatan yang mengoperasikan kafe dan restoran dengan misi positif bagi penyandang disabilitas, termasuk tunarungu. DignityKu berfungsi sebagai pusat pelatihan bagi individu dengan autisme, tunarungu, dan disabilitas fisik, di mana mereka menerima pelatihan barista dan keterampilan memasak. Hendra Warsita, selaku pendiri dan CEO DignityKu, berfokus untuk membantu para penyandang disabilitas bekerja secara profesional dan mandiri.
Terakhir, Serona Coffee di Bintaro, Tangerang Selatan, juga dikenal karena inisiatifnya mempekerjakan staf tunarungu. Kafe ini menciptakan suasana yang nyaman dan luas, serta memfasilitasi komunikasi antara staf dan pelanggan menggunakan bahasa isyarat dan kartu petunjuk.
Keberadaan kelima tempat makan ini adalah bukti nyata dari komitmen terhadap kesetaraan sosial dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Mereka tidak hanya memberikan kesempatan kerja, tetapi juga menciptakan ruang di mana setiap individu dapat bersinar dan menunjukkan kemampuan mereka dalam industri kuliner.