
Dalam lanskap kuliner digital yang semakin didominasi ulasan daring, sebuah tren menarik muncul dalam penilaian restoran China. Alih-alih mengejar restoran dengan peringkat bintang lima sempurna, para pecinta kuliner kini justru beralih mencari tempat makan China yang memiliki rating 3,5 bintang di platform ulasan seperti Yelp atau Google. Fenomena ini mengindikasikan bahwa kualitas rasa yang otentik seringkali ditemukan di balik skor yang dianggap "biasa-biasa saja" oleh sebagian besar konsumen.
Seorang TikToker bernama Freddie Wong (@rocketjump) mempopulerkan teori ini, yang menyatakan bahwa restoran China dengan rating 3,5 justru menjadi pilihan terbaik bagi mereka yang mencari cita rasa otentik dan lezat. Wong berargumen bahwa rating yang lebih tinggi, seperti 4 atau 5 bintang, seringkali berarti restoran tersebut terlalu populer di kalangan non-Asia, dengan pelayanan yang terlalu "sempurna" namun rasa makanan yang kurang sesuai ekspektasi otentisitas. Ia memberikan contoh restoran seperti P. F. Chang's yang mendapatkan rating rendah dan Din Tai Fung yang menurutnya memiliki rating terlalu tinggi.
Penjelasan di balik teori ini berakar pada perbedaan ekspektasi budaya terkait pelayanan. Di banyak restoran Asia, termasuk China, pelayan mungkin tidak seproaktif atau seintensif pelayan di restoran Barat. Mereka mungkin tidak secara aktif menawari isi ulang minuman atau sering memeriksa meja, dan pelanggan diharapkan untuk memanggil pelayan jika membutuhkan sesuatu. Persepsi "pelayanan buruk" ini seringkali menyebabkan penurunan rating keseluruhan restoran oleh pengguna yang tidak terbiasa dengan norma budaya tersebut. Namun, kualitas dan keautentikan makanan di tempat-tempat ini seringkali tetap sangat tinggi, sehingga menyeimbangkan rating menjadi sekitar 3,5 bintang.
Pengalaman ini telah dikonfirmasi oleh beberapa penjelajah kuliner yang mencoba teori Wong. Restoran China dengan rating 3,5 seringkali menyajikan hidangan yang dibuat segar, porsi yang besar, dan cita rasa yang kaya dengan harga terjangkau. Ini menunjukkan bahwa bagi banyak ulasan, kelezatan makanan mampu menebus aspek pelayanan yang kurang maksimal.
Teori "3,5 bintang" ini dikatakan paling berlaku di kota-kota besar atau wilayah metropolitan yang memiliki populasi China yang signifikan dan banyak restoran yang telah diulas secara daring. Para jurnalis dan kritikus kuliner menyarankan agar konsumen melihat detail ulasan dan bukan hanya angka bintangnya saja, karena rating rendah mungkin disebabkan oleh faktor kebersihan atau pelayanan, bukan kualitas makanan. Bagi para pencari pengalaman kuliner yang otentik, memprioritaskan restoran dengan rating "moderat" ini bisa menjadi kunci untuk menemukan hidangan China yang benar-benar istimewa.