
Lima restoran yang selama ini dikenal ramai pengunjung dan diakui kualitasnya di berbagai belahan dunia terpaksa dijual oleh pemiliknya, mencerminkan tekanan multi-faset yang menggerogoti industri kuliner global. Fenomena ini bukan sekadar penjualan bisnis biasa, melainkan seringkali didorong oleh faktor-faktor di luar kesuksesan finansial murni, mulai dari kenaikan biaya operasional yang tak terkendali hingga alasan pribadi yang mendesak, menyoroti kerapuhan sektor yang tampak menjanjikan ini.
Di Singapura, Ka-Soh, restoran Kanton legendaris yang telah beroperasi selama 86 tahun, harus gulung tikar pada 28 September 2025. Pemilik generasi ketiganya, Cedric Tang, dengan berat hati mengungkapkan bahwa meskipun telah bekerja keras bertahun-tahun, kenaikan biaya sewa hingga 30 persen dari S$12.000 menjadi S$15.000 per bulan menjadi beban yang tak tertanggulangi. Tang enggan menaikkan harga menu demi menjaga keterjangkauan bagi pelanggan setia, bahkan sampai mencuci piring sendiri untuk menghemat biaya. Kisah serupa datang dari Korat Thai Cafe di Orchard, Singapura, yang dijual pemiliknya setelah 15 tahun beroperasi karena keinginan untuk pensiun dan pulang kampung, mencari penerus yang bersedia mewarisi resep-resepnya. Ini menunjukkan bagaimana faktor personal dapat menjadi pendorong utama di balik keputusan penjualan, bahkan untuk bisnis yang sudah mapan.
Melintasi benua, di Burslem, Inggris, restoran pemenang penghargaan "Agie & Katie" juga terpaksa dijual oleh kedua pemiliknya karena alasan kesehatan yang sangat personal, setelah lima tahun beroperasi. Sementara itu, di London, The Regency Cafe, sebuah restoran ikonik berusia 78 tahun yang pernah dinobatkan sebagai "London's best restaurant" oleh pelanggan, kini ditawarkan untuk dijual seharga Rp3,4 miliar. Meskipun alasan spesifiknya tidak dirinci secara langsung oleh pemilik, penjualan ini datang di tengah tren umum di mana pemilik memilih pensiun atau menghadapi tekanan persaingan pasar dan biaya sewa yang tinggi. Tekanan ekonomi akibat pandemi COVID-19 juga memaksa Yong Huat, sebuah gerai mi legendaris berusia 50 tahun di Singapura, untuk menjual resep dan tokonya dengan harga yang jauh lebih rendah dari tawaran awal, yakni Rp214 juta, karena kekhawatiran tidak ada pembeli di tengah kondisi pasar yang sulit.
Fenomena ini menggarisbawahi bahwa profitabilitas saja tidak cukup untuk menjamin kelangsungan hidup sebuah restoran. Menurut Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, bisnis restoran sangat rentan terhadap perubahan perilaku pasar dan seringkali pemiliknya belum memiliki kompetensi yang memadai dalam manajemen serta sumber daya manusia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per tahun 2022 mencatat lebih dari 10.900 usaha penyedia makanan dan minuman skala menengah besar di Indonesia, dengan 50,44 persen di antaranya berlokasi di mal atau pertokoan besar. Namun, tingginya angka penutupan restoran di berbagai negara, termasuk 3.000 gerai F&B yang tutup di Singapura sepanjang tahun lalu atau rata-rata 250 restoran per bulan, menunjukkan tantangan yang sistemik.
Kenaikan biaya operasional menjadi faktor dominan. Selain kenaikan sewa yang signifikan—di Singapura mencapai 20-49 persen, bahkan ada yang melonjak 50-100 persen pascapandemi—harga bahan baku juga terus meningkat. Tingkat inflasi Indonesia pada Oktober 2025 tercatat sebesar 2,86 persen, yang didorong oleh kenaikan harga di sebagian besar sektor termasuk makanan, mencapai 4,99 persen. Bank Indonesia memproyeksikan inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada 2025-2026, tetapi kenaikan biaya bahan makanan volatil masih menjadi perhatian. Krisis tenaga kerja juga memperparah kondisi, dengan berkurangnya juru masak dan tingginya permintaan staf memaksa restoran menggandakan gaji, yang sangat memberatkan usaha kecil.
Perubahan perilaku konsumen juga turut membentuk lanskap ini. Konsumen modern lebih memperhatikan kesehatan, keberlanjutan, dan keberagaman, serta mencari pengalaman makan yang unik. Tren penjualan makanan secara daring terus meningkat, tercatat mencapai 19,12 persen pada tahun 2022, mengubah cara restoran menjangkau pelanggan. Restoran yang gagal beradaptasi dengan tren ini, serta minimnya data dan perencanaan, berisiko ditinggalkan.
Implikasi jangka panjang dari tren ini mencakup ancaman terhadap warisan kuliner dan dominasi rantai restoran besar yang memiliki modal lebih kuat, sementara usaha kecil dan keluarga kesulitan bertahan. Untuk mengatasi tantangan ini, para ahli menyarankan perlunya inovasi, adaptasi terhadap dunia digital, pemenuhan permintaan konsumen yang berubah, serta fokus pada keberlanjutan. Tanpa strategi yang komprehensif, mulai dari manajemen operasional yang efisien hingga strategi pemasaran yang adaptif, bahkan restoran paling populer pun dapat kesulitan untuk mempertahankan eksistensinya di tengah tekanan ekonomi dan persaingan yang ketat.