
Susu kental manis (SKM), produk olahan susu yang dikenal dengan rasa manis dan tekstur kentalnya, secara signifikan mengubah profil rasa dan tekstur waffle klasik, memberikan dimensi kelezatan yang lebih kaya namun memunculkan diskusi berkelanjutan mengenai kandungan nutrisinya. Penggunaan SKM dalam adonan waffle tidak hanya meningkatkan rasa manis karamel yang khas tetapi juga berkontribusi pada tekstur waffle yang lebih lembut dan sedikit kenyal, menjadikannya pilihan favorit bagi banyak pegiat kuliner rumahan dan profesional yang mencari hasil premium. Fenomena ini menyoroti bagaimana bahan baku tradisional dapat diadaptasi untuk menciptakan pengalaman sensorik baru, sekaligus mengingatkan akan perlunya pemahaman mendalam tentang komposisi bahan makanan yang digunakan.
Secara historis, susu kental manis dikembangkan pada pertengahan abad ke-19 sebagai metode pengawetan susu sebelum adanya pendinginan yang meluas. Penambahan gula dalam jumlah tinggi berfungsi sebagai pengawet alami, memungkinkan susu untuk disimpan lebih lama tanpa basi. Di Indonesia, SKM telah lama menjadi bagian integral dari kuliner sehari-hari, digunakan dalam berbagai minuman dan makanan penutup. Komposisi utama SKM, menurut standar pangan, umumnya meliputi susu sapi, gula, dan lemak nabati, dengan kandungan gula yang dominan. Misalnya, beberapa merek SKM populer di pasaran dapat mengandung sekitar 40-50 gram gula per 100 gram produk, menjadikannya sumber kalori dan gula yang signifikan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia sendiri telah mengeluarkan pedoman yang mengklarifikasi bahwa SKM bukan merupakan pengganti ASI atau susu formula, dan menegaskan bahwa produk tersebut lebih cocok sebagai topping atau campuran makanan penutup karena kandungan gulanya yang tinggi.
Dalam aplikasi kuliner, khususnya untuk waffle, peran SKM melampaui sekadar penambah rasa manis. Laktosa dalam susu dan gula sukrosa yang terkandung dalam SKM akan mengalami reaksi Maillard saat dipanaskan, menghasilkan warna keemasan yang menarik dan aroma karamel yang kompleks pada permukaan waffle. Kandungan lemak pada SKM juga berkontribusi pada kelembutan interior waffle, mencegahnya menjadi kering dan rapuh. Ini berbeda dengan penggunaan gula pasir biasa, yang mungkin memberikan rasa manis tetapi tidak menawarkan kompleksitas rasa dan tekstur yang sama. Para koki dan pembuat roti sering memanfaatkan sifat-sifat ini untuk menciptakan produk yang memiliki daya tarik sensorik tinggi.
Namun, implikasi jangka panjang dari konsumsi SKM yang tinggi memerlukan perhatian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pembatasan asupan gula tambahan untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, obesitas, dan penyakit jantung. Meskipun SKM dapat meningkatkan kenikmatan kuliner, penggunaan yang tidak terkontrol dalam makanan sehari-hari dapat menyebabkan asupan gula harian melebihi batas yang disarankan. Oleh karena itu, bagi konsumen, pemahaman tentang porsi dan frekuensi konsumsi menjadi krusial. Seorang ahli gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) pernah menyatakan bahwa SKM sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah terbatas dan bukan sebagai sumber nutrisi utama, melainkan sebagai pelengkap rasa.
Masa depan penggunaan SKM dalam inovasi kuliner kemungkinan akan terus berlanjut, didorong oleh kemampuan produk ini untuk memberikan rasa dan tekstur yang unik. Produsen makanan mungkin akan mengeksplorasi formulasi rendah gula atau alternatif gula untuk menjawab kekhawatiran kesehatan yang meningkat, sementara tetap mempertahankan karakteristik rasa yang disukai konsumen. Bagi industri jasa makanan, menyoroti SKM sebagai bahan penambah rasa dalam konteks hidangan penutup yang dikonsumsi sesekali, bukan sebagai komponen gizi esensial, akan menjadi narasi yang lebih bertanggung jawab. Keberlanjutan tren ini akan sangat bergantung pada bagaimana inovasi produk dapat menyeimbangkan antara kepuasan sensorik dan kesadaran kesehatan masyarakat.