
Nusret Gökçe, yang dikenal luas sebagai Salt Bae, telah membangun kerajaan kuliner global dengan kekayaan bersih yang mengesankan, diperkirakan mencapai 80 juta dolar AS. Koki dan pemilik restoran asal Turki ini menjadi sensasi internet pada tahun 2017 berkat gaya uniknya menaburkan garam di atas daging, yang kemudian mengubahnya menjadi meme dan melambungkan nama Nusr-Et Steakhouse miliknya ke kancah dunia. Restoran-restoran mewahnya kini tersebar di kota-kota besar seperti Dubai, New York, London, Miami, dan Las Vegas, dikenal dengan suasana mewah dan pelayanan yang dramatis.
Namun, di balik gemerlapnya kesuksesan dan hidangan mahal seperti steak Tomahawk berlapis emas yang bisa mencapai harga lebih dari 1.000 dolar AS atau sekitar 28 juta Rupiah per porsi, perjalanan Salt Bae tidak lepas dari kontroversi. Salah satu sorotan utama adalah harga menu yang selangit, memicu kritik dari berbagai kalangan. Restoran Nusr-Et di London, misalnya, pernah menjadi perbincangan karena tagihan yang mencapai ribuan Poundsterling untuk beberapa item saja, dan bahkan mendapatkan peringkat ulasan buruk 2,5 dari 5 bintang di TripAdvisor.
Selain masalah harga, Salt Bae juga menghadapi tuduhan terkait praktik bisnis dan kepegawaian. Ia pernah digugat atas pelanggaran hak cipta serta dituduh tidak membayarkan upah lembur kepada karyawannya. Laporan mengenai upah pelayan di restorannya di London yang dianggap terlalu rendah, sekitar 290 ribu Rupiah per jam, juga menuai kritik publik karena tidak sepadan dengan harga makanan mewah yang disajikan. Cabang Nusr-Et di Boston bahkan pernah ditutup hanya seminggu setelah dibuka karena berbagai pelanggaran, termasuk masalah suhu lemari pendingin, mesin pencuci piring, dan kekhawatiran terkait protokol COVID-19.
Di sisi lain, perbincangan mengenai "fakta menjijikkan di balik menu restoran" menyoroti isu kebersihan yang lebih luas di industri kuliner. Pentingnya kebersihan dan higienitas di lingkungan restoran sangat krusial karena mempengaruhi kepercayaan dan kenyamanan pengunjung. Survei menunjukkan bahwa 90% pelanggan menganggap kebersihan sebagai faktor penting dalam memilih tempat makan, dan 75% akan meninggalkan restoran jika area makan terlihat kotor.
Beberapa praktik yang sering menjadi perhatian adalah kebersihan meja makan yang tidak didisinfeksi dengan benar, hanya dilap dengan kain basah tanpa cairan pembersih, serta toilet yang kotor atau berbau dapat menjadi indikator buruknya kebersihan dapur. Keberadaan serangga seperti lalat dan kecoak di area makan atau dapur, serta tempat garam dan lada yang tidak rutin dibersihkan, juga menjadi tanda-tanda kurangnya higienitas. Bahkan, menu restoran yang kotor dan berminyak bisa mengindikasikan standar kebersihan yang buruk.
Di dalam dapur, beberapa fakta mencengangkan yang kerap terjadi meliputi penggunaan bahan makanan yang sudah kedaluwarsa atau busuk, karyawan yang sakit namun tetap bekerja sehingga berpotensi menyebarkan virus, hingga praktik tidak higienis seperti menjatuhkan makanan ke lantai dan memungutnya kembali untuk disajikan. Kasus ekstrem bahkan menunjukkan restoran yang mencuci piring di toilet atau dekat tempat sampah, menyoroti kurangnya kesadaran akan standar operasional prosedur kebersihan dapur yang memadai.
Meskipun Salt Bae dikenal dengan atraksi menaburkan garamnya, beberapa pihak juga mempertanyakan apakah teknik tersebut memenuhi aturan kesehatan. Kisah Salt Bae, dari tukang daging miskin hingga menjadi ikon kuliner global dengan kekayaan melimpah, menggambarkan bagaimana popularitas viral dapat membangun sebuah kerajaan. Namun, juga menjadi pengingat bahwa di balik megahnya presentasi dan harga premium, isu transparansi, perlakuan karyawan, dan standar kebersihan tetap menjadi fondasi penting yang menentukan keberlanjutan sebuah bisnis kuliner.