
Seorang influencer asing di Bali, Laurence Benson, bersama rekan-rekannya mengejutkan publik dengan memberikan penilaian "sempurna" 10 setelah pertama kali mencicipi gulai jengkol, hidangan tradisional Indonesia yang dikenal dengan aroma kuatnya. Reaksi positif ini, yang terekam dalam video viral pada September 2022, menyoroti pergeseran persepsi terhadap makanan lokal Indonesia yang sering dianggap menantang bagi lidah internasional.
Jengkol, atau Archidendron pauciflorum, adalah tanaman tropis asli Asia Tenggara yang telah lama menjadi bahan pokok dalam masakan Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Myanmar. Meskipun memiliki tekstur kenyal dan rasa gurih yang unik, bau khasnya yang tajam seringkali menjadi penghalang bagi banyak orang, termasuk sebagian masyarakat Indonesia sendiri. Sejarah konsumsi jengkol di Nusantara telah tercatat sejak lama, bahkan disebut dalam "The History of Java" (1817) oleh Letnan Gubernur Hindia Belanda, Thomas Stamford Raffles, sebagai bahan makanan di Jawa. Karel Heyne, seorang ahli botani Belanda, pada tahun 1913 juga menyebutkan jengkol dalam karyanya tentang tumbuhan yang berguna di Hindia Belanda, meski menurut pandangan Eropa biji jengkol tidak enak, namun penduduk setempat menyukainya. Berbagai olahan seperti semur jengkol dan gulai jengkol menjadi hidangan favorit yang dapat ditemukan di berbagai warung makan tradisional hingga restoran modern. Jengkol dikenal kaya serat dan secara tradisional dipercaya memiliki khasiat obat seperti membersihkan darah dan meringankan disentri, namun juga mengandung asam jengkolat yang dapat mengganggu sistem kemih jika dikonsumsi berlebihan.
Penerimaan hangat terhadap jengkol oleh warga asing ini membawa implikasi signifikan bagi upaya diplomasi kuliner Indonesia. Selama ini, Indonesia telah gencar mempromosikan hidangan seperti rendang ke panggung global, yang bahkan diakui sebagai salah satu makanan terbaik di dunia pada tahun 2011 dan 2021. Namun, jengkol, dengan reputasinya yang lebih kontroversial, kini menunjukkan potensi untuk memperluas spektrum kuliner Indonesia yang dapat diterima secara internasional. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Teuku Riefky Harsya, telah menyatakan dukungan pemerintah terhadap restoran lokal yang ingin berekspansi ke luar negeri, menekankan peran mereka dalam memperkuat diplomasi budaya bangsa melalui tujuh sub-sektor ekonomi kreatif, termasuk kuliner.
Para bule dalam video yang diunggah Laurence Benson tidak hanya menikmati gulai jengkol, tetapi beberapa bahkan membandingkan rasanya dengan kentang dan mengakui aroma sebelum dicicipi lebih baik dari penampilannya. "Wanginya enak. Wanginya lebih enak dari kelihatannya," ujar salah satu bule yang mencicipi gulai jengkol. Reaksi semacam ini menunjukkan bahwa hambatan utama—yaitu aroma—dapat diatasi oleh cita rasa masakan yang kuat dan presentasi yang tepat. David Daud dan Eli Lasmini di Bandung, misalnya, telah sukses mengembangkan bisnis kuliner rumahan dengan sambal jengkol tanpa bau menyengat melalui metode rahasia mereka, membuktikan bahwa inovasi pengolahan dapat mengurangi aspek yang kurang disukai dari jengkol tanpa mengurangi rasa.
Fenomena ini menggarisbawahi pentingnya narasi dan pengalaman personal dalam mempromosikan kuliner tradisional. Alih-alih hanya berfokus pada hidangan yang sudah populer, perhatian terhadap "makanan ekstrem" atau "challenging food" seperti jengkol dapat menarik minat segmen wisatawan dan penggemar kuliner global yang mencari pengalaman otentik dan unik. Potensi jengkol sebagai agen diplomasi kuliner mungkin tidak akan secara langsung menyaingi rendang dalam waktu dekat, namun penerimaan positif dari warga asing seperti yang ditunjukkan di Bali ini membuka pintu bagi eksplorasi lebih lanjut dan de-stigmatisasi hidangan yang secara tradisional dianggap 'berani'. Hal ini mendorong diskusi lebih lanjut tentang bagaimana pemerintah dan pelaku industri kuliner dapat memanfaatkan momen viral semacam ini untuk merancang strategi yang lebih komprehensif dalam memajukan warisan kuliner Indonesia di kancah global, selaras dengan upaya diplomasi kuliner yang telah menjadi strategi pengembangan citra positif bangsa.