
Sejak kemunculannya sebagai adaptasi bakmi Tiongkok, mie ayam telah bertransformasi menjadi salah satu hidangan ikonik di Indonesia, dengan versi rumahan ala Jawa yang kian relevan bagi jutaan rumah tangga yang mencari kemudahan dan autentisitas di dapur mereka. Hidangan ini, yang akarnya mencerminkan akulturasi budaya yang mendalam sejak kedatangan perantau Tionghoa ke Nusantara, kini menjadi penopang ekonomi keluarga dan pelestarian warisan kuliner melalui praktik masak di rumah.
Mie ayam, yang popularitasnya meroket pada era 1980-an berkat penjaja keliling, merupakan modifikasi dari bakmi Tionghoa yang aslinya menggunakan daging babi, lalu diadaptasi dengan daging ayam dan rempah lokal agar sesuai dengan selera mayoritas Muslim di Indonesia. Varian Jawa, khususnya yang terkenal dari Wonogiri, Jawa Tengah, memiliki ciri khas rasa manis gurih yang menonjol berkat dominasi kecap manis dan bumbu rempah seperti ketumbar, kunyit, dan kemiri, berbeda dengan cita rasa asin gurih versi Tionghoa. Popularitasnya tidak pudar, terbukti dari data GoFood pada tahun 2023 yang menempatkan olahan mie sebagai salah satu dari tiga menu terlaris secara umum, menunjukkan permintaan yang konsisten di kalangan konsumen Indonesia.
Kemudahan pembuatan mie ayam rumahan ala Jawa adalah faktor kunci daya tariknya. Prosesnya relatif sederhana, meliputi penyiapan topping ayam bumbu kecap, merebus mie telur, dan meracik bumbu dasar dengan minyak sayur dan kecap asin. Bahan-bahan seperti mie telur segar mudah ditemukan di pasar tradisional, dan topping ayam dapat disiapkan terlebih dahulu untuk disimpan, menghemat waktu persiapan bagi rumah tangga modern. Fleksibilitas ini memungkinkan individu untuk menyesuaikan rasa dan bahan pelengkap sesuai selera, seperti penambahan sawi, bakso, atau pangsit.
Dalam konteks ekonomi, tren masakan rumahan memainkan peran substansial. Sektor makanan dan minuman di Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencapai 6,15% pada triwulan II 2025. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang didominasi oleh perempuan sebesar 64,5%, menyumbang 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 97% tenaga kerja. Mie ayam rumahan berkontribusi pada ketahanan ekonomi keluarga, memberikan peluang usaha baru, serta melestarikan kuliner Nusantara. Program pelatihan keamanan pangan dan inovasi menu bagi pelaku UMKM kuliner rumahan, seperti inisiatif "Frisian Flag Dukung UMK – Kedai Kreatif 2025" oleh Frisian Flag Indonesia bekerja sama dengan BPOM, menunjukkan pengakuan terhadap potensi besar sektor ini.
Meskipun tren kuliner terus berkembang dengan inovasi rasa dan teknik baru pada tahun 2024, hidangan tradisional yang mudah diakses dan disiapkan di rumah seperti mie ayam Jawa tetap menjadi fondasi penting dalam lanskap kuliner Indonesia. Kemampuannya untuk beradaptasi dengan gaya hidup modern tanpa kehilangan esensi budayanya memastikan relevansi jangka panjang, baik sebagai makanan sehari-hari maupun sebagai pilar ekonomi rumah tangga yang berkelanjutan.