Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Petualangan Kuliner Bella Kuku: Nasi Jamblang Seribuan Cirebon yang Wajib Dicoba!

2025-12-22 | 14:39 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T07:39:02Z
Ruang Iklan

Petualangan Kuliner Bella Kuku: Nasi Jamblang Seribuan Cirebon yang Wajib Dicoba!

YouTuber kuliner kenamaan Bella Kuku Taneshia baru-baru ini menyoroti sebuah warung Nasi Jamblang "hidden gem" di Cirebon, Jawa Barat, tempat ia menikmati hidangan khas tersebut dengan harga nasi pokok hanya Rp 1.000-an per bungkus kecil. Pengalaman kuliner yang dibagikan oleh Bella Kuku, yang juga dikenal sebagai Bella Kuku Taneshia, tersebut menyoroti bagaimana warisan kuliner Cirebon, Nasi Jamblang, tetap mempertahankan esensi keterjangkauannya di tengah dinamika pasar modern.

Nasi Jamblang, sebuah sajian ikonik dari Cirebon, memiliki akar sejarah yang kuat sejak abad ke-19, bermula pada masa penjajahan Belanda ketika infrastruktur seperti pabrik gula dan jalan raya pos dibangun di wilayah tersebut. Nasi ini awalnya berfungsi sebagai bekal makanan bagi para pekerja paksa atau buruh yang terlibat dalam proyek-proyek tersebut. Penyajiannya yang khas menggunakan daun jati bukan sekadar estetika, melainkan juga berfungsi untuk menjaga nasi dan lauk pauk agar tidak mudah basi, sebuah inovasi praktis pada masanya. Nama "Jamblang" sendiri berasal dari nama desa di sebelah barat Kabupaten Cirebon yang diyakini menjadi pusat awal popularitas hidangan ini. Pada era tersebut, menjual nasi bahkan dianggap pamali di beberapa komunitas lokal karena kelangkaan uang, sehingga nasi jamblang hadir sebagai solusi makanan rakyat yang terjangkau.

Kini, Nasi Jamblang tetap dikenal sebagai makanan yang ramah di kantong, dengan harga seporsi nasi putih yang dibungkus daun jati dijual sekitar Rp 1.000 hingga Rp 4.500 di berbagai warung. Lauk pauk pendampingnya pun bervariasi, mulai dari tahu, tempe, sate kentang yang dapat ditemukan seharga Rp 1.000 hingga Rp 2.500, hingga hidangan yang lebih substansial seperti cumi balakutak hitam, paru goreng, atau daging sapi yang dapat mencapai Rp 12.000 hingga Rp 35.000 per porsi, tergantung pada jenis dan ukuran. Bella Kuku sendiri, meskipun menikmati nasi seharga Rp 1.000, memesan "lauk melimpah" sehingga total hidangannya mencapai Rp 25.000, menunjukkan fleksibilitas harga sesuai pilihan lauk.

Fenomena food vlogger seperti Bella Kuku memiliki dampak signifikan terhadap industri kuliner lokal. Ulasan positif dari influencer dapat meningkatkan popularitas, reputasi, dan penjualan suatu produk makanan dan bisnis dari pengusaha mikro secara drastis, mengingat banyak UMKM kuliner memiliki kendala dalam pendanaan pemasaran tradisional. Kehadiran video Bella Kuku berpotensi membawa warung "hidden gem" yang dikunjunginya menjadi lebih dikenal luas, menarik kunjungan wisatawan, dan secara langsung meningkatkan pendapatan bagi pedagang kecil tersebut.

Sektor kuliner, termasuk Nasi Jamblang, merupakan kontributor besar bagi perekonomian kreatif Cirebon, menyumbang sekitar 41% dari total PDB ekonomi kreatif pada tahun 2021 di tingkat nasional. Pengembangan wisata kuliner berbasis kearifan lokal di Kabupaten Cirebon memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian lokal serta melestarikan budaya dan tradisi setempat. Pemerintah Kota Cirebon bahkan fokus memperkuat ikon kuliner lokal dengan meningkatkan kualitas produk dari sumber daya lokal, seperti penggunaan mangga gedong gincu. Namun, popularitas yang melonjak melalui media sosial juga membawa tantangan, yaitu perlunya menjaga kualitas dan konsistensi pelayanan agar tetap mendapatkan ulasan positif serta memastikan autentisitas dan ketersediaan bahan baku lokal tetap terjaga.

Ke depan, peran influencer dalam mempromosikan kuliner tradisional seperti Nasi Jamblang akan terus membentuk tren dan preferensi konsumen. Hal ini mendorong inovasi dalam industri kuliner Cirebon, seperti pengembangan nasi jamblang siap saji (frozen food) atau kemasan modern, sembari tetap mempertahankan kekhasan dan keterjangkauan yang menjadi identitas utama hidangan tersebut. Ini menjadi keseimbangan krusial antara menjaga warisan kuliner dan beradaptasi dengan permintaan pasar yang terus berkembang.