
Ketika mi instan Ak Koh A1 Abalone asal Malaysia memasuki pasar daring Indonesia dengan banderol harga mencapai puluhan ribu rupiah per bungkus, fenomena perbandingan rasa dengan mi instan lokal legendaris, Indomie, segera mengemuka, memicu perdebatan di kalangan konsumen dan pengamat industri kuliner. Produk premium ini, dengan toping abalon asli dan harga yang bisa mencapai Rp 80.000 per porsi, menantang persepsi pasar mi instan yang selama ini didominasi oleh produk terjangkau.
Mi Instan Ak Koh A1 Abalone, yang diproduksi oleh Natural Food and Spices Manufacturing, Malaysia, menarik perhatian karena harga ecerannya berkisar antara Rp 48.000 hingga Rp 80.000 di platform e-commerce Indonesia, sebuah angka yang jauh di atas rata-rata harga mi instan reguler Indomie yang sekitar Rp 3.000 per bungkus. Produk ini dilengkapi dengan dua irisan abalon berukuran kecil dan kaldu cair, menciptakan rasa kuah bening yang oleh beberapa pencicip disebut mirip dengan kuah Indomie rasa Ayam Bawang, meski tanpa elemen pedas dari bubuk cabai yang umum pada varian Indomie. Abalon sebagai bahan baku memang memiliki harga tinggi, sekitar Rp 350.000 per kilogram untuk abalon segar, yang berkontribusi signifikan pada biaya produksi mi instan ini. Mi instan ini sendiri memiliki berat bersih 150 gram, dengan tekstur mi yang keriting dan kenyal, serupa namun lebih besar dari mi instan lokal.
Fenomena mi instan "sultan" ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan indikator pergeseran dinamis dalam pasar mi instan Indonesia, yang pada tahun 2024 menjadi konsumen mi instan terbesar kedua di dunia dengan 14,68 miliar porsi. Data World Instant Noodles Association (WINA) pada November 2025 juga mencatat pertumbuhan industri mi instan Indonesia sebesar 3-5%. Perubahan tren konsumsi ini mendorong persaingan di segmen premium, di mana produsen global merilis varian premium hingga super-premium dengan peningkatan kualitas bahan baku dan konsep "sehat". Segmen produk bernilai tambah ini dilaporkan tumbuh lebih cepat dibandingkan segmen reguler, menjadi pendorong utama ekspansi industri.
Pemain lokal raksasa seperti PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, produsen Indomie, telah lama mengamati tren ini. Indofood sendiri telah meluncurkan varian premium seperti Indomie Real Meat pada tahun 2016, bersaing dengan produk mi premium lain seperti Bakmie Mewah dari PT Mayora Indah Tbk yang diluncurkan pada tahun 2015. Indomie tetap mempertahankan posisinya sebagai merek mi instan paling dipilih konsumen di Indonesia dan ketiga di dunia pada tahun 2022. Penjualan bersih mi instan Indofood CBP mencapai Rp 50,44 triliun pada tahun 2023, menyumbang 72,48% dari total pendapatan perusahaan. Pada kuartal I-2024, penjualan mi instan mendominasi dengan kontribusi Rp 14,67 triliun.
Namun, prospek pasar mi instan premium di Indonesia menghadapi tantangan signifikan. Pelemahan nilai tukar Rupiah dan kenaikan biaya impor bahan baku, khususnya gandum, telah menyebabkan penurunan daya beli kelas menengah yang memengaruhi konsumsi produk turunan seperti mi instan premium. Volume impor gandum pada Januari-Agustus 2025 tercatat turun tajam 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada selera untuk produk premium, faktor ekonomi makro dapat menjadi penghalang bagi pertumbuhan berkelanjutan segmen ini.
Kemunculan mi instan Abalone Sultan dengan perbandingan rasa Indomie menyoroti kompleksitas pasar kuliner Indonesia: kerinduan akan cita rasa yang familier berhadapan dengan keinginan untuk pengalaman kuliner mewah. Strategi harga premium dengan bahan eksotis mungkin menarik segmen pasar tertentu, namun dominasi Indomie yang telah mengakar kuat selama puluhan tahun, didukung oleh harga terjangkau dan ketersediaan luas di lebih dari 100 negara, menegaskan tantangan berat bagi produk-produk baru untuk mengubah preferensi konsumen secara fundamental. Bagaimana mi instan premium ini akan menavigasi dinamika pasar yang sensitif harga sekaligus berjuang menembus loyalitas terhadap Indomie, di tengah ketidakpastian ekonomi global, akan menjadi narasi menarik dalam evolusi industri makanan cepat saji Indonesia.