
Studi terbaru telah mengungkap bahwa sebagian besar madu di seluruh dunia tercemar pestisida, menyoroti meluasnya paparan zat kimia pertanian terhadap populasi lebah. Penelitian komprehensif ini, yang dipimpin oleh tim dari University of Neuchâtel dan Kebun Raya Neuchâtel di Swiss, menganalisis hampir 200 sampel madu dari berbagai benua.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science pada tanggal 5 Oktober 2017 ini, menemukan bahwa sekitar 75 persen dari sampel madu yang diuji mengandung jejak setidaknya satu jenis pestisida neonicotinoid. Neonicotinoid adalah kelas insektisida yang bekerja pada sistem saraf serangga. Para peneliti, termasuk penulis utama Edward Mitchell, seorang profesor biologi di University of Neuchâtel, dan Alexandre Aebi, seorang peternak lebah dan peneliti di universitas yang sama, mengumpulkan 198 sampel madu dari seluruh benua kecuali Antartika, serta beberapa pulau terpencil, antara tahun 2012 dan 2016. Lima jenis neonicotinoid yang paling umum digunakan — acetamiprid, clothianidin, imidacloprid, thiacloprid, dan thiamethoxam — dicari dalam sampel tersebut.
Temuan menunjukkan bahwa kontaminasi pestisida sangat luas, dengan 30 persen sampel madu yang tercemar mengandung satu jenis neonicotinoid, 45 persen mengandung dua atau tiga jenis, dan 10 persen mengandung empat atau bahkan lima jenis. Hampir separuh dari seluruh sampel secara global mengandung lebih dari satu jenis pestisida. Tingkat kontaminasi tertinggi ditemukan di Amerika Utara (86%), diikuti oleh Asia (80%) dan Eropa (79%). Sementara itu, tingkat terendah tercatat di Amerika Selatan (57%), Afrika (73%), dan Australia (71%).
Meskipun konsentrasi pestisida yang terdeteksi umumnya berada di bawah batas residu maksimum (MRL) yang diizinkan untuk konsumsi manusia oleh Uni Eropa, para peneliti menyuarakan keprihatinan. Namun, dua sampel menunjukkan tingkat kontaminasi yang melebihi batas tersebut jika kelima neonicotinoid dipertimbangkan secara bersamaan. Dampak utama dari kontaminasi ini diperkirakan pada lebah sendiri; 34 persen sampel mengandung tingkat insektisida yang diketahui berbahaya bagi lebah dan penyerbuk lainnya, yang dapat memengaruhi pembelajaran, perilaku, dan keberhasilan koloni lebah. Pestisida ini juga telah dihubungkan dengan fenomena colony collapse disorder.
Para ilmuwan menggarisbawahi kekhawatiran mengenai "efek koktail" dari paparan berbagai pestisida secara simultan, serta potensi dampak jangka panjang dari paparan dosis rendah, baik pada lebah maupun pada manusia. Meskipun efek toksisitas akut pada manusia dianggap rendah, dampak kronis jangka panjang dari konsumsi madu yang mengandung residu pestisida masih belum diketahui secara pasti. Residu pestisida dapat menyebabkan mutasi genetik dan degradasi seluler. Temuan ini memperkuat bukti tentang sejauh mana pestisida mencemari lingkungan dan menempatkan penyerbuk vital pada risiko di seluruh dunia.