
Kesadaran global akan kesehatan pencernaan mendorong peningkatan signifikan pada tren diet bebas gluten, sebuah fenomena yang juga merambah pasar Indonesia. Di tengah preferensi ini, lemet singkong, jajanan tradisional Indonesia yang terbuat dari singkong parut, kelapa, dan gula merah, muncul sebagai pilihan kudapan bebas gluten yang tidak hanya mudah dibuat tetapi juga kaya manfaat gizi dan berpotensi ekonomi. Pasar makanan bebas gluten global, yang bernilai 1,4 miliar dolar AS pada tahun 2023, diproyeksikan mencapai 2,4 miliar dolar AS pada tahun 2032, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 10,02% selama periode 2024 hingga 2032. Di Indonesia sendiri, tren ini bukan hal baru, dengan laporan EU-Indonesia Business Network (EIBN) 2019 menyoroti peningkatan ketertarikan konsumen terhadap produk bebas gluten, rendah gula, dan nabati.
Singkong (Manihot esculenta), bahan dasar lemet, merupakan sumber karbohidrat kompleks alami yang secara inheren bebas gluten, menjadikannya alternatif aman bagi penderita penyakit celiac atau sensitivitas gluten. Umbi ini juga kaya serat, membantu melancarkan pencernaan, mencegah sembelit, dan mendukung kesehatan usus. Selain itu, singkong mengandung vitamin C, folat, kalium, magnesium, dan fosfor, yang penting untuk kekebalan tubuh, regulasi tekanan darah, dan kesehatan jantung. Ahli gizi kerap merekomendasikan singkong sebagai pengganti nasi putih karena indeks glikemiknya yang lebih rendah, menyediakan energi tahan lama tanpa lonjakan gula darah drastis.
Lemet singkong memiliki akar budaya yang dalam di Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta dikenal juga sebagai utri atau ketimus. Jajanan ini secara historis diciptakan oleh masyarakat pedesaan untuk memanfaatkan melimpahnya singkong sebagai bahan pangan utama, terutama pada masa kolonial sebagai pengganti beras. Daun pisang digunakan sebagai pembungkus memberikan aroma khas, sementara gula merah sisir menambah rasa manis alami, mengingat mahalnya gula pasir di masa lalu. Proses pembuatannya yang relatif sederhana—singkong diparut, dicampur kelapa parut dan gula merah, lalu dikukus—membuatnya mudah diadaptasi di rumah tangga maupun skala usaha kecil. Resep standar umumnya mencakup 500 gram singkong parut, 100-150 gram kelapa parut, 100-200 gram gula aren atau gula merah sisir, serta sedikit garam dan daun pandan untuk aroma. Proses pengukusan memakan waktu sekitar 30 hingga 45 menit.
Produksi ubi kayu di Indonesia mengalami peningkatan menjadi 16,76 juta ton pada tahun 2023, naik 1,81 juta ton dibandingkan tahun 2022. Data ini menyoroti potensi singkong sebagai fondasi diversifikasi pangan lokal dan bahan baku industri pertanian. Meskipun Indonesia adalah salah satu produsen ubi kayu terbesar dunia, bahkan masuk dalam lima besar produsen global hingga tahun 2013, volume ekspor ubi kayu segar dan olahan pada tahun 2022 tercatat hanya 14,9 ribu ton, didominasi oleh pati ubi kayu, sementara impor mencapai 290,3 juta ton. Hal ini menunjukkan defisit neraca perdagangan ubi kayu sebesar 147,3 juta dolar AS pada tahun 2022, menggarisbawahi perlunya peningkatan produksi domestik dan pengembangan produk turunan.
Pengembangan lemet singkong sebagai jajanan bebas gluten yang mudah dibuat bukan hanya melestarikan warisan kuliner, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani singkong dan pelaku UMKM. Dengan rata-rata harga ubi kayu di tingkat petani berkisar antara Rp 3.130,- hingga Rp 3.355,- per kg pada tahun 2022, dan harga di tingkat konsumen mencapai Rp 5.299,- hingga Rp 5.689,- per kg, diversifikasi ke produk olahan seperti lemet dapat meningkatkan nilai tambah komoditas ini. Pergeseran pola konsumsi masyarakat Indonesia yang mulai mencari makanan sehat dan alami, dibuktikan dengan tren "snack gluten free" yang viral di media sosial, termasuk jajanan tradisional, memberikan dorongan pasar yang kuat bagi lemet singkong. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua makanan bebas gluten otomatis sehat; pilihan terbaik tetap pada makanan alami yang minim proses dan membatasi konsumsi gula berlebihan. Dengan demikian, lemet singkong merepresentasikan konvergensi antara tradisi, kesehatan, dan potensi ekonomi di lanskap kuliner modern.