Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kunci Sukses Ayam Kampung Guling: Resep Natal Paling Dicari

2025-12-23 | 20:05 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-23T13:05:45Z
Ruang Iklan

Kunci Sukses Ayam Kampung Guling: Resep Natal Paling Dicari

Pilihan ayam kampung guling sebagai sajian utama Natal tahun ini menggarisbawahi pergeseran preferensi kuliner masyarakat Indonesia menuju hidangan tradisional yang sarat makna dan cita rasa otentik, di tengah dominasi tren makanan praktis dan instan. Tren ini tidak hanya mencerminkan keinginan untuk kembali pada akar budaya, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi signifikan bagi peternak ayam kampung lokal dan pasar bumbu tradisional.

Secara historis, hidangan ayam utuh panggang atau guling telah lama menempati posisi sentral dalam berbagai perayaan di Indonesia, bukan sekadar sebagai makanan, melainkan sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan. Misalnya, dalam tradisi Jawa, ayam panggang menjadi bagian dari sesaji dalam upacara syukuran atau "slametan", melambangkan doa dan harapan. Ayam ingkung, serupa dengan ayam guling dalam konteks penyajian utuh, memiliki filosofi "mengayomi" dan "manekung" (memanjatkan doa), sering disandingkan dengan tumpeng sebagai sesaji. Sementara itu, ayam guling sendiri merupakan hidangan khas Cirebon yang diolah dengan bumbu rempah dan saus rahasia. Popularitas ayam kampung dalam hidangan perayaan juga terlihat dari tradisi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan yang menyiapkan menu khas Lebaran berbahan dasar ayam kampung.

Peningkatan minat terhadap ayam kampung guling untuk Natal 2025 ini terjadi di tengah prediksi kenaikan permintaan ayam secara umum sebesar 10% menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), menurut laporan dari Harianjogja.com. Permintaan ayam kampung juga menunjukkan peningkatan menjelang Natal dan Tahun Baru. Namun, kenaikan harga daging ayam secara keseluruhan bukan hanya dipicu oleh lonjakan permintaan musiman Nataru, melainkan akumulasi dari kondisi pasar beberapa bulan terakhir, seperti yang disampaikan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno. Ini mengindikasikan bahwa pilihan konsumen untuk ayam kampung guling bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari apresiasi yang lebih dalam terhadap kualitas dan nilai gizi.

Dari sisi nutrisi, ayam kampung menawarkan keunggulan dibanding ayam broiler. Ahli gizi menjelaskan bahwa ayam kampung memiliki otot yang lebih padat, rendah lemak, dan rasa yang lebih gurih karena pergerakannya yang lebih aktif. Kandungan lemak total dan lemak jenuh ayam kampung juga lebih rendah, dengan kandungan zat besi, vitamin, dan mineral yang lebih tinggi. Sebuah studi perbandingan nutrisi menunjukkan setiap 100 gram daging ayam kampung mengandung 246 kkal energi, 37,9 gram protein, dan 9 gram lemak, sementara ayam negeri memiliki 295 kkal energi, 37 gram protein, dan 14,7 gram lemak. Keunggulan ini berkontribusi pada persepsi ayam kampung sebagai pilihan yang lebih sehat dan alami.

Dampak ekonomi dari tren ini terlihat pada pasar bahan pokok. Meskipun beberapa komoditas bumbu dapur seperti cabai rawit, cabai merah besar, dan bawang merah dilaporkan mengalami penurunan harga menjelang Natal 2025 di Jombang, harga bawang putih relatif stabil, sementara kemiri dan telur ayam ras mengalami kenaikan. Kenaikan harga bumbu dapur juga terjadi di Tasikmalaya pada bawang merah, cabai merah, telur, minyak goreng, dan sayuran, disebabkan oleh lahan yang belum panen dan dampak banjir. Namun, pasokan bahan pokok secara umum di beberapa daerah seperti Salatiga dan Lebak diklaim aman dan terkendali menjelang Nataru 2025/2026. Stabilnya ketersediaan bumbu memungkinkan masyarakat untuk tetap menyiapkan hidangan tradisional yang kaya rempah seperti ayam kampung guling.

Tren kuliner akhir 2025 juga menunjukkan peningkatan minat masyarakat pada camilan ringkas dan minim bahan, terutama di media sosial. Namun, Direktur Paskomnas Indonesia, Soekam Parwadi, menyoroti pergeseran perilaku konsumsi generasi muda yang mengutamakan kepraktisan, termasuk penggunaan bumbu instan, meskipun ia mencatat pola konsumsi ini kurang ideal dari sisi kesehatan jangka panjang. Kontras dengan tren praktis tersebut, pilihan untuk menyajikan ayam kampung guling untuk Natal menunjukkan adanya segmen masyarakat yang bersedia meluangkan waktu dan upaya lebih demi hidangan yang lebih autentik dan bermakna. Ini sekaligus mendorong keberlanjutan usaha peternak ayam kampung skala rumahan, yang keuntungannya per ekor bisa lebih besar meski masa panen lebih lama. Beberapa peternak ayam kampung telah sukses dan menginspirasi warga desa lainnya untuk menekuni usaha ini.

Implikasi jangka panjang dari tren ini meliputi revitalisasi praktik kuliner tradisional dan penguatan ekonomi lokal. Dengan bergesernya perhatian ke hidangan seperti ayam kampung guling, masyarakat secara tidak langsung turut melestarikan warisan budaya kuliner dan mendukung mata pencaharian peternak kecil serta petani rempah. Upaya ini dapat menjadi penyeimbang terhadap arus globalisasi makanan cepat saji, menegaskan identitas kuliner Indonesia yang kaya dan beragam.