
Di tengah lanskap kuliner Indonesia yang kaya, hidangan ayam khas Minangkabau tetap memegang posisi sentral, diakui secara luas karena kekayaan rempah dan profil rasa yang mendalam. Dari Ayam Pop yang ikonik hingga Gulai Ayam yang pekat, tiga resep ini tidak hanya menyajikan kelezatan gastronomi, tetapi juga mencerminkan sejarah panjang perdagangan rempah, filosofi memasak, dan dampak ekonomi budaya di Sumatera Barat.
Masakan Minangkabau, atau yang lebih dikenal sebagai Masakan Padang, memiliki akar yang kuat dalam sejarah perdagangan rempah di wilayah Sumatera Barat. Sejak zaman dahulu, daerah ini merupakan salah satu jalur perdagangan rempah terbesar di Asia Tenggara, menarik pedagang dari India dan Timur Tengah yang membawa serta kebiasaan memasak dengan rempah, santan, dan cabai, yang kemudian berakulturasi dengan bahan-bahan lokal. Filosofi di balik masakan ini menekankan kesabaran, kebijaksanaan, dan ketekunan, terlihat dari proses memasak yang memakan waktu lama untuk memastikan bumbu meresap sempurna, sebuah prinsip yang juga berlaku pada hidangan gulai. Penggunaan rempah-rempah yang melimpah seperti kunyit, jahe, lengkuas, serai, daun jeruk, dan cabai merah menjadi ciri khas yang menciptakan cita rasa kuat, pedas, dan gurih.
Ayam Pop, dengan tampilannya yang putih pucat namun rasa gurih yang tak terlupakan, menjadi salah satu ikon kuliner Minangkabau yang digemari di seluruh Indonesia. Asal-usul hidangan ini secara spesifik tidak diketahui pasti, namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Ayam Pop pertama kali populer di Restoran Family Benteng Indah, Bukittinggi, yang berdiri sejak tahun 1947 atau 1950-an. Keunikannya terletak pada proses memasak yang istimewa: ayam direbus terlebih dahulu dalam air kelapa dan bawang putih cincang dengan bumbu marinasi, lalu digoreng sebentar saja hingga matang sempurna dan permukaannya kekuningan namun tidak kering, menghasilkan tekstur daging yang sangat empuk dan bumbu meresap sempurna. Perebusan dalam air kelapa ini memberikan aroma khas dan rasa yang lebih gurih. Menurut Michelle, seorang turis asal Australia, "Rasanya benar-benar berbeda dari ayam goreng biasa. Saya sangat suka dengan tekstur dagingnya yang lembut dan rasa rempah yang meresap." Ayam Pop biasanya disajikan dengan samba lado (sambal tomat pedas) dan daun singkong rebus, menciptakan harmoni rasa yang sempurna.
Sementara itu, Gulai Ayam Padang merepresentasikan kekayaan bumbu berkuah santan yang menjadi ciri khas masakan Minangkabau. Gulai, sebagai hidangan yang tersebar luas di Nusantara, terutama di Sumatera, mendapatkan pengaruh dari kari India namun diadaptasi dengan komposisi bumbu lokal dan penggunaan santan yang lebih dominan oleh Suku Minangkabau. Sejarahnya telah menjadi bagian integral dari masakan Padang selama berabad-abad, dengan penggunaan ayam yang memungkinkan hidangan ini dinikmati oleh berbagai kalangan. Ciri khas Gulai Ayam Padang adalah rasanya yang kompleks dan kaya rempah, seringkali berwarna kuning keemasan berkat penggunaan kunyit sebagai bumbu utama, yang membedakannya dari kari. Masakan ini memerlukan perpaduan rempah seperti jahe, lengkuas, serai, daun jeruk, dan cabai, dimasak perlahan dalam santan hingga bumbu meresap sempurna ke dalam daging ayam.
Ketiga hidangan ayam ini, bersama dengan kuliner Padang lainnya, memiliki implikasi signifikan terhadap ekonomi kreatif lokal. Subsektor kuliner menjadi unggulan di Kota Padang, dengan produk UMKM yang semakin diminati di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Data menunjukkan bahwa rumah makan Padang sangat populer; misalnya, pada tahun 2021, Restoran Sederhana mencatat penjualan 71,3 juta dolar AS, menjadikannya salah satu restoran dengan penjualan terbesar di Indonesia setelah merek internasional seperti KFC dan McDonald's. Di Jakarta saja, diperkirakan terdapat 27 ribu rumah makan Padang. Meskipun masakan Padang sering dikaitkan dengan santan dan lemak, Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. dr. Nur Indrawaty Lipoeto, MMedSci, Ph.D., menyatakan bahwa rempah-rempah dalam bumbu masakan Minang mengandung antioksidan yang mampu menetralisir lemak jenuh jika dimasak dengan benar, menepis kekhawatiran kesehatan yang umum. Komitmen untuk menjaga keaslian rasa dan teknik memasak tradisional terus dipertahankan, memastikan warisan kuliner Minangkabau tetap otentik di tengah inovasi modern. Popularitas hidangan ayam ini tidak hanya memperkaya khazanah kuliner Indonesia, tetapi juga menggerakkan perekonomian masyarakat lokal dan memperkuat identitas budaya Minangkabau di panggung global.