
Gelombang Korean Wave yang melanda Indonesia telah menciptakan fenomena kuliner unik, di mana sentuhan rasa gurih tradisional Indonesia secara tak terduga berpadu dengan cemilan Korea modern, seringkali melalui keahlian para juru masak rumahan yang mahir mengadaptasi cita rasa global menggunakan bumbu lokal yang akrab, termasuk monosodium glutamat (MSG) yang telah lama menjadi andalan dapur. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan adaptasi selera, tetapi juga memperlihatkan dinamika fusi budaya kuliner yang kaya di tingkat akar rumput.
Popularitas jajanan Korea di Indonesia melonjak signifikan, didorong oleh demam K-pop dan K-drama yang menembus berbagai lapisan masyarakat. Pada tahun 2021, pencarian terkait makanan Korea di Google mengalami kenaikan lebih dari 100 persen, dengan tteokbokki menjadi salah satu yang paling diminati. Data Netflix Asia Pasifik 2024 juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu dari tiga negara dengan jumlah penonton K-Drama terbanyak, yang turut memicu keingintahuan terhadap kuliner Negeri Ginseng. Jajanan seperti tteokbokki, corndog, dan odeng kini mudah ditemukan di pusat perbelanjaan hingga gerai kaki lima, menawarkan perpaduan rasa pedas, manis, dan gurih yang cocok dengan lidah masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, MSG, atau yang lebih dikenal sebagai "micin", telah menjadi bagian tak terpisahkan dari bumbu dapur Indonesia selama puluhan tahun, jauh sebelum tren kuliner global seperti K-Food marak. Meskipun kerap menjadi subjek kontroversi dan mitos negatif, secara ilmiah MSG adalah penguat rasa umami yang aman dikonsumsi dalam batas wajar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan asupan harian MSG kurang dari 2.000 miligram natrium per hari, atau setara dengan tidak lebih dari satu sendok teh, sementara Kementerian Kesehatan menganjurkan maksimal 5 gram per hari. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 73,8 persen responden di Indonesia mengonsumsi bumbu penyedap rasa lebih dari sekali sehari, namun rata-rata konsumsi harian MSG di Indonesia diperkirakan hanya sekitar 0,6 gram per orang, jauh di bawah batas aman yang direkomendasikan. MSG diproduksi melalui fermentasi tetes tebu, proses yang serupa dengan pembuatan tempe atau yogurt, dan mengandung 78% glutamat, 12% natrium, dan 10% air. Glutamat sendiri adalah asam amino yang secara alami ditemukan dalam banyak bahan makanan seperti tomat, jamur, keju, dan bahkan air susu ibu (ASI), yang memberikan rasa umami atau gurih.
Perpaduan kuliner ini seringkali dieksekusi secara instingtif oleh juru masak rumahan atau figur "nenek" yang memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana menyeimbangkan rasa. Chef Ragil Imam Wibowo, pakar kuliner Nusantara, menjelaskan bahwa Indonesia kaya akan ratusan bahan baku yang bisa menghasilkan rasa umami, seperti terasi, petis, tempe, dan tauco, menegaskan bahwa umami bukanlah rasa baru bagi lidah Indonesia. Penggunaan MSG dalam adaptasi cemilan Korea oleh para "nenek" ini bukanlah semata-mata penambahan bahan, melainkan sebuah bentuk keahlian dalam menciptakan resonansi rasa yang familiar di tengah kebaruan. Ini adalah bentuk fusi kuliner di tingkat rumah tangga, di mana tradisi memperkuat inovasi. Tren kuliner fusi, yang menggabungkan elemen dari dua atau lebih tradisi kuliner berbeda, telah berkembang pesat di Indonesia, menawarkan eksplorasi rasa yang menarik bagi konsumen.
Implikasinya, fenomena ini menunjukkan betapa dinamisnya identitas kuliner Indonesia. Masyarakat tidak hanya pasif menerima tren global, tetapi aktif mengadaptasinya, memperkaya dengan kearifan lokal. Ini menegaskan bahwa masakan Indonesia, dengan kekayaan rempah dan cita rasanya, memiliki kemampuan adaptasi tinggi yang menjadikannya relevan di tengah arus globalisasi. Ke depan, perpaduan seperti ini kemungkinan akan terus berkembang, mendorong inovasi baru dalam industri kuliner Indonesia, sekaligus menantang persepsi usang tentang bahan-bahan tertentu seperti MSG, dan mengangkat peran krusial para juru masak tradisional dalam menjaga dan mengembangkan budaya makan. Hal ini juga menjadi pengingat bahwa "comfort food nostalgia" dan masakan rumahan ala nenek kini menjadi idola baru di kalangan Gen Z, yang mencari autentisitas dan koneksi emosional dengan akar budaya mereka.