
Konsumsi makanan cepat saji atau junk food secara berlebihan telah lama diketahui memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Namun, seringkali peringatan ini diabaikan hingga menyebabkan konsekuensi yang fatal. Beberapa kasus nyata di berbagai belahan dunia menjadi pengingat mengerikan tentang bagaimana hobi makan junk food dapat berujung pada kematian. Berikut adalah lima kasus tragis yang menyoroti bahaya pola makan tidak sehat.
Stacey Irvine, seorang remaja berusia 17 tahun dari Inggris, dilaporkan meninggal dunia setelah dokter mendiagnosisnya menderita anemia dan gizi buruk. Kematian Irvine diakui oleh orang tuanya sebagai akibat dari kecanduannya terhadap makanan cepat saji yang telah dikonsumsi sejak usia dua tahun. Pola makan Stacey secara eksklusif didominasi oleh chicken nugget, tanpa asupan gizi bervariasi selama bertahun-tahun, yang mengakibatkan tubuhnya kekurangan vitamin dan nutrisi penting.
Kasus tragis lainnya menimpa Dmitry Nuyanzin, seorang influencer kebugaran berusia 30 tahun. Ia ditemukan meninggal dunia dalam tidurnya setelah beberapa minggu menjalankan eksperimen diet ekstrem dengan mengonsumsi 10.000 kalori junk food setiap hari. Nuyanzin dilaporkan mengonsumsi berbagai makanan cepat saji seperti pizza, burger, keripik, kue, dan aneka pastry dalam jumlah besar. Menurut laporan, jantungnya berhenti berdetak saat tidur, diduga akibat pola makan tidak sehat tersebut.
Shaun, seorang remaja berusia 18 tahun, juga kehilangan nyawanya akibat gaya hidup yang sangat tidak sehat. Shaun memiliki berat badan mencapai 120 kg pada usia 17 tahun, sebagian besar disebabkan oleh hobinya mengonsumsi junk food seperti pizza, nugget, keripik, dan ayam goreng. Selain itu, ia kecanduan bermain game di depan komputer hingga 10 jam sehari, yang meminimalkan aktivitas fisiknya. Meskipun sempat berhasil menurunkan berat badan menjadi 95 kg, kombinasi obesitas dan kurangnya gerak diduga menjadi penyebab kematiannya.
Di Indonesia, Muhammad Fajri, seorang pria berusia 26 tahun asal Tangerang, menjadi sorotan publik setelah bobot tubuhnya mencapai 300 kilogram. Fajri meninggal dunia pada 22 Juni 2023, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) akibat syok sepsis dan kegagalan multi-organ. Kondisi obesitas ekstrem yang dialaminya memicu infeksi pada kaki kanannya yang kemudian menyebar ke paru-paru, menyebabkan syok sepsis yang berujung pada disfungsi jantung, penurunan tekanan darah, dan masalah ginjal. Kasus seperti Fajri menunjukkan dampak mengerikan dari pola makan tidak seimbang dan gaya hidup tidak aktif yang seringkali melibatkan konsumsi junk food tinggi kalori.
Selain Fajri, kasus obesitas ekstrem lainnya menimpa Sunarti, wanita asal Karawang, Jawa Barat, yang pada tahun 2019 memiliki bobot 149 kilogram. Sunarti sempat menjalani operasi bariatrik untuk memperkecil ukuran lambungnya. Namun, ia kemudian meninggal dunia pada Maret 2019 karena sesak napas, suatu komplikasi serius yang sering dikaitkan dengan obesitas parah.
Kisah-kisah nyata ini menjadi pengingat penting akan bahaya yang mengintai di balik konsumsi junk food secara berlebihan dan gaya hidup tidak sehat. Pola makan yang minim nutrisi dapat memicu berbagai penyakit kronis, obesitas ekstrem, hingga kegagalan organ yang pada akhirnya merenggut nyawa.