Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Hindari Keramaian Jogja: 5 Surga Kuliner Tersembunyi yang Belum Banyak Diketahui!

2025-12-27 | 00:49 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-26T17:49:14Z
Ruang Iklan

Hindari Keramaian Jogja: 5 Surga Kuliner Tersembunyi yang Belum Banyak Diketahui!

Kepadatan wisatawan di Yogyakarta, yang mencatatkan lebih dari 10 juta pengunjung ke Kota Yogyakarta sepanjang tahun 2024, mendorong pencarian alternatif destinasi kuliner yang lebih otentik dan tidak terjamah keramaian arus utama. Fenomena 'overtourism', yang menurut beberapa penelitian sudah dialami Yogyakarta, memicu tekanan signifikan pada infrastruktur dan kenyamanan di pusat-pusat wisata populer, seperti Malioboro atau Kopi Klotok, khususnya selama musim liburan panjang. Dalam respons terhadap tantangan ini, wisatawan dan pelaku industri mulai beralih mencari "hidden gem" atau permata tersembunyi yang menawarkan pengalaman kuliner lebih personal dan tradisional.

Yogyakarta, yang dikenal luas sebagai jantung budaya dan pariwisata Indonesia, telah lama menjadi magnet bagi pelancong domestik maupun mancanegara, didukung oleh kekayaan sejarah dan kulinernya. Perkembangan pariwisata di wilayah ini dimulai pasca-kemerdekaan dengan upaya pemerintah daerah pada tahun 1950-an untuk memulihkan perekonomian. Namun, lonjakan pengunjung baru-baru ini telah menciptakan dilema. Gusti Kanjeng Ratu Bendara, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, mengakui adanya kepadatan wisatawan yang sering disalahartikan sebagai overtourism sepanjang tahun, padahal puncaknya terjadi saat "high season" atau musim liburan. Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa tingginya minat wisatawan membawa dampak positif signifikan bagi perekonomian lokal, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sekaligus mengimbau warga lokal untuk bersabar dan wisatawan menjaga etika. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri menargetkan pariwisata sebagai lokomotif transformasi ekonomi, pemuliaan budaya, dan keberlanjutan lingkungan pada tahun 2026, dengan fokus pada "quality tourism" dan upaya pemerataan kegiatan di sepanjang tahun guna mengurai kepadatan.

Di tengah upaya penyeimbangan ini, lima lokasi kuliner berikut menawarkan alternatif yang menarik, menjanjikan cita rasa autentik dan suasana yang berbeda dari keramaian pusat kota:

1. Gudeg Pawon: Terletak di Jalan Janturan, Warungboto, Umbulharjo, Gudeg Pawon menyajikan gudeg langsung dari dapur tradisional atau "pawon" pada malam hari. Keunikan ini memberikan pengalaman bersantap yang intim, dengan gudeg bercita rasa tidak terlalu manis dan ayam kampung yang empuk. Meskipun sering diiringi antrean panjang, keaslian rasanya menjadikannya buruan.
2. Mangut Lele Mbah Marto: Bersembunyi di Dusun Nengahan, Ngiring-Ngiring, Panggungharjo, Sewon, Bantul, warung ini terkenal dengan mangut lele asap pedas yang dimasak dengan bumbu santan kental, meresap sempurna ke dalam daging ikan. Pengunjung dapat merasakan sensasi makan di dapur rumah tua dengan aroma khas bakaran kayu.
3. Sambel Welut Pak Sabar: Bagi penggemar pedas, lokasi sederhana di Jalan Imogiri Timur KM 12, Bantul, ini menawarkan sambal welut (belut) pedas dan belut goreng tanpa duri yang diolah khusus. Cita rasa pedas gurihnya telah menarik perhatian media dan kritikus kuliner.
4. Bakmi Mbah Mo: Sejak tahun 1986, Bakmi Mbah Mo di Dusun Code, Trirenggo, Bantul, menjadi legenda dengan bakmi Jawa yang dimasak menggunakan tungku arang, menghasilkan rasa asin gurih yang khas. Lokasinya yang tersembunyi jauh dari keramaian memastikan pengalaman makan yang tenang dan mendalam.
5. Jiwa Jawi Resto: Berada di Jalan Tugu Gentong, Salakan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Jiwa Jawi Resto menawarkan hidangan Jawa tradisional dalam suasana pedesaan yang asri, dikelilingi hijaunya pepohonan. Konsep tradisional dengan rumah Joglo dan area outdoor memungkinkan pengunjung menikmati hidangan seperti ayam kecombrang dengan ketenangan.

Pengembangan destinasi kuliner "hidden gem" ini tidak hanya menjadi solusi pragmatis untuk mengurai kepadatan di sentra kuliner populer, tetapi juga merefleksikan pergeseran preferensi wisatawan menuju pengalaman yang lebih autentik, lokal, dan lestari. Upaya ini sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk meningkatkan "length of stay" dan "spending money" wisatawan melalui diversifikasi atraksi, termasuk program desa wisata yang mendorong interaksi lebih dalam dengan budaya lokal. Namun, tantangan ke depan meliputi bagaimana menjaga keaslian dan keberlanjutan tempat-tempat ini agar tidak ikut tergerus oleh popularitas dan komersialisasi berlebihan, sekaligus memastikan dampak positif pariwisata dirasakan secara merata oleh masyarakat luas tanpa merusak lingkungan dan nilai-nilai budaya yang menjadi daya tarik utama Yogyakarta.