Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Bertahan Lintas Zaman: 5 Kedai Kopi Legendaris Saksi Bisu Era Kolonial

2025-12-14 | 22:15 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-14T15:15:46Z
Ruang Iklan

Bertahan Lintas Zaman: 5 Kedai Kopi Legendaris Saksi Bisu Era Kolonial

Jejak era kolonial Indonesia tidak hanya terukir dalam bangunan-bangunan tua, tetapi juga dalam aroma pekat cangkir kopi yang disajikan di beberapa kedai legendaris. Kedai-kedai kopi ini, yang telah melewati berbagai zaman, tetap mempertahankan otentisitas dan menjadi saksi bisu perjalanan budaya minum kopi di Nusantara. Lima toko kopi kuno berikut ini terus bertahan hingga sekarang, menawarkan pengalaman nostalgia yang tak lekang oleh waktu.

Pertama adalah Warung Tinggi Tek Sun Ho di Jakarta, yang berdiri kokoh sejak tahun 1878. Kedai kopi tertua di Indonesia ini didirikan oleh Liaw Tek Soen di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Sejak awal berdirinya, Warung Tinggi telah menjual biji kopi mentah dan sangrai dari berbagai daerah di Nusantara. Bahkan, pada tahun 1930, kedai ini sudah mulai mengekspor bubuk kopi ke Belanda. Hingga kini, Warung Tinggi Tek Sun Ho tetap mempertahankan kualitas dan cita rasa kopi autentiknya, dengan biji kopi yang berasal dari Aceh, Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Resep rahasia dan metode pemanggangan kopi warisan leluhur pun dijaga ketat oleh generasi kelima.

Selanjutnya, Kedai Kopi Apek di Medan, Sumatera Utara, yang telah melayani pelanggannya sejak tahun 1919. Berlokasi di Jalan Hindu Nomor 37 Kesawan, Medan, kedai ini didirikan oleh Thia Tjo Lie alias Apek dan kini telah diwariskan hingga generasi ketiga. Meskipun telah berganti generasi, resep racikan kopinya tetap dipertahankan, salah satunya dengan tetap menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak air. Kedai ini beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 12.00 siang, selaras dengan ritme kesibukan Pasar Hindu di seberangnya.

Di Pulau Belitung, terdapat Waroeng Kopi Ake yang telah berdiri sejak tahun 1921. Terletak di Jalan KV Senang 57, Tanjung Pandan, warung kopi ini dikenal sebagai salah satu kedai kopi tertua di Indonesia. Waroeng Kopi Ake telah diwariskan sampai ke generasi ketiga dan keempat, dengan tetap mempertahankan racikan aslinya. Keunikan lainnya adalah penggunaan peralatan zaman dulu, seperti gentong air, alat penyulingan air, katel, dan dua teko air, yang masih digunakan oleh kakek buyut pendirinya.

Kemudian, Kopi Es Tak Kie, kedai kopi legendaris di kawasan Glodok, Jakarta Barat, yang mulai beroperasi pada tahun 1927. Kedai ini dirintis oleh Liong Kwie Tjong, seorang perantau dari Tiongkok. Nama "Tak Kie" sendiri berasal dari kata "Tak" yang berarti bijaksana, sederhana, dan tidak macam-macam, serta "Kie" yang berarti mudah diingat orang. Kopi Es Tak Kie menyajikan campuran kopi robusta maupun arabika dari Lampung. Interior dan tata ruang kedai ini tidak banyak berubah sejak pertama berdiri, membawa pelanggan bernostalgia ke masa lalu.

Terakhir, Warung Kopi Purnama di Bandung, Jawa Barat, yang telah ada sejak tahun 1930. Awalnya didirikan oleh Jong A Thong dengan nama "Chang Chong Se" yang berarti "Selamat Mencoba!", namun berganti nama menjadi Warung Kopi Purnama pada tahun 1966 karena kebijakan pemerintah Indonesia yang mewajibkan penggunaan nama Indonesia. Berlokasi di Jalan Alkateri No. 22, warung kopi ini mempertahankan interior ruangan bergaya Belanda-Cina. Hingga saat ini, Warung Kopi Purnama setia menyajikan resep kopi susu dan roti bakar selai srikaya yang sama sejak dulu, menggunakan biji kopi khusus dari Medan.