
Peningkatan minat masyarakat terhadap restoran berkonsep rumahan dengan sajian kuliner Nusantara dan hidangan laut lezat menjadi tren signifikan dalam industri kuliner Indonesia, didorong oleh kebutuhan akan kenyamanan dan pengalaman bersantap yang otentik. Sektor makanan dan minuman sendiri merupakan penopang utama ekonomi kreatif Indonesia, menyumbang hampir 34% dari Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan pada kuartal kedua 2023, serta berkontribusi 40,33% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada triwulan II-2024. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan, jumlah usaha penyediaan makanan dan minuman di Indonesia mencapai 4,85 juta, menyerap 9,80 juta pekerja, dengan nilai penjualan mencapai Rp 998,37 triliun.
Fenomena ini tidak hanya mencerminkan pergeseran preferensi konsumen, tetapi juga potensi besar kuliner Indonesia sebagai identitas bangsa dan magnet pariwisata. Ahli kuliner terkemuka, William Wongso, menekankan bahwa kuliner adalah warisan budaya yang membanggakan, dengan setiap daerah memiliki teknik masak dan cita rasa khas yang memperkaya keberagaman Indonesia. Konsep restoran 'homey' yang mengusung suasana asri, bangunan bernuansa tradisional, hingga area semi-outdoor semakin diminati, terutama oleh keluarga yang mencari pengalaman makan santai. Tren ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif dari sektor kuliner dan perhotelan. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan bahwa kuliner adalah bagian dari ekspresi budaya dan ruang inovasi yang terus berkembang, dengan industri makanan dan minuman menyumbang 38% PDB ekonomi kreatif.
Beberapa restoran telah berhasil mengintegrasikan konsep ini, menawarkan pengalaman bersantap yang membuat pengunjung betah sekaligus memanjakan lidah dengan hidangan Nusantara dan seafood segar. Di Gading Serpong, Tangerang, Taman Santap Rumah Kayu menjadi destinasi favorit dengan konsep saung lesehan, kolam ikan, dan arena bermain anak, menyajikan masakan tradisional seperti ayam kalasan, sop ikan, hingga aneka seafood bakar dengan sambal dabu-dabu. Di kawasan Ciputat, Lawasan hadir menyerupai rumah pribadi berhalaman luas, lengkap dengan pendopo dan rumah Joglo, menawarkan soto dan mendoan bercita rasa rumahan. Sementara itu, Tjikini Lima di Jakarta Pusat membawa pengalaman bersantap di rumah kuno dengan nuansa homey, menyajikan hidangan Indonesia dan Barat, termasuk sop buntut, iga bakar, nasi bakar, dan bebek khas Bali.
Di Surabaya, Layar Seafood dikenal sebagai spesialis hidangan laut segar, populer dengan kepiting telur asin dan udang windu singaraja. Botanika di Kertajaya Indah menyajikan masakan Nusantara dengan suasana hangat khas rumahan dan tampilan kekinian, dikelilingi rindangnya dedaunan. Sementara itu, Gubug Makan Mang Engking di Bandung, yang juga memiliki cabang di Surabaya, menawarkan konsep saung Sunda di atas kolam, dengan menu seafood dan masakan Sunda yang lezat. Sea Food Nusantara di Bandung juga menjadi pilihan dengan beragam menu seafood, ayam, bebek, dan soto, menawarkan harga terjangkau.
Perkembangan restoran dengan konsep homey dan sajian Nusantara serta seafood ini tidak hanya memenuhi selera pasar domestik yang terus mengapresiasi kekayaan kuliner lokal, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, menegaskan bahwa sektor kuliner Indonesia masih bisa dioptimalkan karena keragamannya dan kekayaan bahan baku lokal. Ia menambahkan, strategi diplomasi kuliner perlu dilakukan untuk meningkatkan potensi kuliner Indonesia di mata dunia. Namun, tantangan inflasi dan daya beli masyarakat tetap menjadi perhatian bagi industri makanan dan minuman.
Meskipun demikian, dengan dukungan pemerintah melalui berbagai program fasilitasi dan pendampingan, serta inovasi para pelaku usaha dalam menghadirkan konsep yang menarik, masa depan restoran homey dengan menu Nusantara dan seafood yang otentik diprediksi akan terus tumbuh. Hal ini tidak hanya memperkuat perekonomian lokal, tetapi juga melestarikan warisan kuliner yang menjadi bagian integral dari identitas bangsa. Kolaborasi pentaheliks antara pemerintah, akademisi, bisnis, lembaga keuangan, komunitas, dan media menjadi kunci penguatan ekosistem ekonomi kreatif ini.