Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

6 Rekomendasi Kafe Kopi Malang: Jelajahi Pesona Kekinian hingga Legendarisnya

2025-12-29 | 02:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T19:34:27Z
Ruang Iklan

6 Rekomendasi Kafe Kopi Malang: Jelajahi Pesona Kekinian hingga Legendarisnya

Kota Malang, Jawa Timur, kini telah memantapkan posisinya sebagai destinasi wisata kuliner unggulan, dengan lanskap kedai kopi yang menawarkan spektrum luas dari nuansa kolonial legendaris hingga estetika modern yang digandrungi kaum muda. Industri kopi yang dinamis ini tidak hanya menjadi daya tarik bagi wisatawan, tetapi juga berperan krusial dalam menggerakkan ekonomi lokal, di tengah lonjakan signifikan jumlah kafe dalam lima tahun terakhir.

Sejak awal abad ke-20, Malang telah memiliki ikatan kuat dengan industri kopi Indonesia. Wilayah Kabupaten Malang, khususnya Dampit dan lereng Gunung Kawi, dikenal sebagai produsen kopi robusta dan arabika berkualitas tinggi, bahkan menjadi titik awal penyebaran robusta di Tanah Air pada era kolonial Belanda. Sejarah panjang ini melahirkan sejumlah kedai kopi yang menjadi saksi bisu perkembangan kota.

Salah satu ikon yang tak lekang oleh waktu adalah Toko Oen. Berdiri sejak 1930-an di Malang, toko ini mempertahankan arsitektur dan interior asli bergaya kolonial Belanda, menyajikan es krim buatan sendiri, kue-kue tradisional, serta hidangan Indo-Belanda yang telah diwariskan turun-temurun. Toko Oen dahulunya merupakan tempat berkumpul favorit bagi orang Belanda di Malang, bahkan menjadi lokasi kongres KNIP pada 1947. Pengunjung dari mancanegara, terutama Belanda, kerap mengunjungi tempat ini untuk bernostalgia.

Melengkapi jejak historis kopi Malang adalah Java Dancer Coffee, yang meskipun berdiri pada Desember 2008, telah diakui sebagai salah satu pelopor kedai kopi serius di kalangan "kera Ngalam" (sebutan warga Malang). Java Dancer mengusung filosofi merayakan kopi Nusantara, menyajikan kopi Arabika pilihan dari berbagai daerah di Indonesia, dengan suasana tradisional Jawa yang kental, dihiasi ikon wayang seperti Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong. Harga menu di Java Dancer berkisar antara Rp 25.000 hingga Rp 75.000 per sajian.

Sementara itu, Warkop Djayantie, yang telah eksis sejak 1980, menawarkan pengalaman ngopi yang lebih merakyat dengan konsep kopitiam jadul. Kedai ini populer dengan kopi butter, kopi hitam tubruk, dan kopi susu tubruk yang dibanderol mulai dari Rp 5.000. Suasana santai dan harga terjangkau menjadikan Warkop Djayantie tempat favorit lintas generasi.

Dalam satu dekade terakhir, Kota Malang menyaksikan lonjakan pesat bisnis kafe. Data dari Dinas Tenaga Kerja dan Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang mencatat peningkatan usaha kafe yang signifikan. Fenomena ini didorong oleh pertumbuhan populasi mahasiswa, daya tarik kota sebagai destinasi wisata, serta peran media sosial sebagai katalis pemasaran. Sivaraja, seorang pengusaha kafe di Malang, menyatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir industri kopi di Malang tumbuh luar biasa, dengan banyak wisatawan yang kini datang ke Malang khusus untuk menjelajahi kafe-kafe.

Di sisi lain spektrum, kafe-kafe kekinian bermunculan, menawarkan pengalaman yang disesuaikan dengan gaya hidup modern. Nakoa Cafe menjadi salah satu pilihan favorit mahasiswa dan pekerja, berkat ruangannya yang luas, desain minimalis modern, ketersediaan banyak stop kontak, dan koneksi Wi-Fi yang stabil. Kafe ini menjadi tempat ideal untuk work from cafe (WFC) sekaligus nongkrong.

Titik Koma Coffee, didirikan pada 2016, juga menarik perhatian dengan nuansa vintage dan penggunaan bangunan asli Belanda yang memberikan atmosfer kolonial yang unik. Mengusung filosofi "rehat sejenak tapi tidak untuk menyerah," Titik Koma menyajikan berbagai variasi minuman kopi seperti es kopi aren, espresso, americano, dan matcha latte. Lokasinya di Jalan Buring No. 52, Klojen, Malang, membuatnya mudah dijangkau.

Bagi mereka yang mencari tempat nongkrong 24 jam, Roketto Coffee & Co menjadi pilihan populer. Terkenal di kalangan anak muda Malang, kafe ini menyediakan suasana yang nyaman dan fasilitas lengkap untuk belajar atau bekerja hingga larut malam. Aneka menu kopi dan makanan berat/ringan tersedia, menjadikannya destinasi lengkap bagi pengunjung.

Kontribusi sektor kopi terhadap perekonomian lokal Malang sangat signifikan. Komoditas kopi memberikan kontribusi tinggi terhadap perekonomian masyarakat di daerah penghasil kopi seperti Dampit, mencapai 68%, dan diakui dalam peta kopi nasional hingga menembus pasar ekspor. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Malang, Avicenna Saniputera, mengungkapkan potensi produksi kopi yang besar di wilayahnya, dengan kontribusi sekitar 13.500 hingga 15.000 ton kopi per tahun untuk ekspor, dan harga robusta yang sempat mencapai di atas Rp 100.000 per kilogram.

Namun, pertumbuhan pesat ini juga menghadirkan tantangan. Fariz Chamim Udien, pemilik Lembaga Kursus Barista Eqiyu di Malang, menyoroti bahwa banyak kafe gulung tikar karena kurangnya pemahaman pelaku usaha tentang karakteristik bisnis, manajemen risiko, dan perencanaan yang matang. Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Malang, Indra Setiyadi, menambahkan bahwa fenomena "copycat" di mana banyak kafe baru meniru ide tanpa inovasi tambahan, dapat memperketat persaingan.

Meskipun demikian, peluang masih terbuka bagi pebisnis baru yang menawarkan proposisi nilai berbeda, pengalaman pelanggan berkualitas, dan integrasi teknologi. Tren pariwisata kuliner di Malang diprediksi akan terus berkembang, seiring dengan kesadaran wisatawan yang lebih memilih pengalaman autentik dan berkelanjutan. Dengan keberagaman kafe yang kaya akan sejarah dan inovasi, Malang menawarkan narasi kopi yang menarik dan terus berkembang, memadukan pesona masa lalu dengan dinamika masa kini, menjadikannya tujuan yang wajib dikunjungi bagi setiap penikmat kopi.