
Demam salt bread, roti gurih mentega yang semula populer di Jepang dengan nama shio pan dan kemudian menyebar luas di Korea Selatan, kini meramaikan lanskap kuliner Bandung dengan berbagai penawaran yang inovatif dan terjangkau. Tren roti kekinian ini bukan sekadar fenomena sesaat, melainkan refleksi dari adaptasi pasar lokal terhadap selera global yang mencari keseimbangan antara cita rasa autentik dan harga yang ramah di kantong, menjadikan Bandung magnet baru bagi pencinta bakery.
Salt bread sendiri dikenal dengan karakteristik khasnya: bagian luar yang renyah dengan taburan garam kasar, serta bagian dalam yang lembut, kenyal, dan kaya akan aroma mentega, seringkali dengan isian lelehan mentega di tengahnya saat dipanggang. Popularitasnya di Indonesia, termasuk Bandung, tumbuh pesat sejak sekitar tahun 2024, menyoroti kemampuan kota ini dalam mengadopsi dan mengkreasikan tren kuliner global. Fenomena ini mengindikasikan pergeseran preferensi konsumen yang semakin terbuka terhadap varian roti non-manis dan menghargai kualitas bahan premium yang ditawarkan oleh artisan bakery.
Di tengah kota kembang yang dinamis ini, sejumlah bakery dan kafe telah menjadi tujuan utama bagi mereka yang memburu salt bread dengan kualitas rasa yang memuaskan dan harga bersaing. Hidden Salt, misalnya, sebuah merek saudara dari Roti Dingin, menawarkan salt bread mulai dari Rp 9.500. Berlokasi di Jalan Cigadung Raya Barat, kafe ini mengusung konsep homey dan menyajikan salt bread yang dipanggang segar setiap hari dengan varian seperti original, milky, cheese, curry egg mayo, hingga crispy almond.
POC Bakehouse, atau Peach of Cake Bakehouse, juga turut meramaikan tren ini dengan konsep kafe mungil bergaya Korea di Jalan Karangsari. Salt bread di tempat ini dikenal dengan kulit luar yang crunchy dan bagian dalam yang lembut, tersedia dalam varian seperti strawberry butter, Dubai chocolate, cinnamon, coffee butter, hingga double cheese. Sementara itu, The Deli Bakes di Jalan Pudak menawarkan pilihan salt bread premium mulai dari sekitar Rp 20.000, termasuk varian garlic salt bread, parmesan salt bread, dan cheese sausage salt bread.
Salt Saltbread, yang disebut-sebut sebagai pelopor salt bread di Bandung, menyajikan rotinya dalam dua sesi setiap hari di Jalan LLRE Martadinata, dengan harga mulai dari Rp 11.000 untuk varian plain hingga strawberry butter dan red bean butter. Ada pula D Dough, yang sebelumnya dikenal dengan donat pumpkin, turut menghadirkan salt bread dalam daftar menu kekiniannya. Kehadiran berbagai pemain ini menunjukkan bagaimana tren salt bread tidak hanya diadopsi, tetapi juga diadaptasi dengan sentuhan lokal dan inovasi rasa, memperkaya khazanah kuliner Bandung.
Perkembangan salt bread yang terjangkau ini tidak hanya memenuhi selera konsumen, tetapi juga mendorong persaingan inovasi di kalangan pelaku usaha bakery. Dengan harga yang kompetitif, mulai dari di bawah Rp 10.000 hingga sekitar Rp 20.000 per buah, salt bread menjadi pilihan camilan populer yang dapat dinikmati berbagai kalangan, baik untuk sarapan, camilan sore, maupun teman minum kopi. Ini juga mencerminkan adaptasi industri roti terhadap permintaan pasar yang menginginkan produk artisanal dengan harga yang tetap proporsional. Tren ini berpotensi terus berkembang, dengan bakery baru yang mungkin akan muncul atau bakery yang sudah ada memperluas variasi salt bread mereka untuk mempertahankan daya tarik di tengah kompetisi pasar yang semakin ketat. Konsumen di Bandung, dengan daya beli yang bervariasi, mendapatkan keuntungan dari pilihan yang beragam dan berkualitas ini, memperkuat posisi Bandung sebagai salah satu episentrum kuliner di Indonesia.