
Jakarta, sebuah megapolitan yang terus bergerak, tidak hanya dikenal dengan gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan megah, namun juga menyimpan lapisan kekayaan kuliner yang tersembunyi, seringkali luput dari perhatian khalayak umum. Dalam beberapa bulan terakhir, perbincangan di kalangan netizen, khususnya di platform media sosial Threads, telah menyoroti lima tempat makan yang dijuluki "hidden gem" karena cita rasa autentik dan pengalaman bersantap yang tak terduga. Fenomena ini merefleksikan pergeseran perilaku konsumen yang semakin giat mencari pengalaman kuliner unik di luar rekomendasi mainstream, mengukir narasi baru dalam peta gastronomi ibu kota.
Gelombang digital telah mengubah cara masyarakat menemukan dan mengapresiasi kuliner. Apa yang sebelumnya dikenal sebagai "rahasia lokal" kini dapat menyebar dengan cepat melalui ulasan dan rekomendasi daring. Konsep "hidden gem" itu sendiri merujuk pada lokasi yang kurang dikenal, seringkali terletak di area sepi atau di dalam gang-gang, namun menawarkan kualitas yang luar biasa. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memprediksi tren eksplorasi destinasi tersembunyi dan pengalaman budaya lokal, termasuk kuliner, akan terus meningkat hingga akhir tahun 2025, menandakan peluang signifikan bagi pelaku usaha kecil menengah.
Berikut adalah lima rekomendasi kuliner "hidden gem" di Jakarta yang banyak disebut netizen karena kelezatannya:
Pertama, Rumah Makan Padang Sepakat di Melawai 9, Jakarta Selatan, telah menjadi buah bibir. Berdiri sejak tahun 1967, rumah makan ini legendaris dengan bumbu masakan yang pekat dan cita rasa otentik Minang. Netizen merekomendasikan hidangan seperti Rendang Daging, Ayam Bakar, Gulai Tunjang, dan Gajeboh, yang dibanderol mulai dari Rp 12.000an per lauknya. Kesederhanaan tampilannya dari luar berbanding terbalik dengan kenikmatan yang ditawarkan, menjadikannya favorit bagi pencari masakan Padang berkualitas.
Kedua, Inn's Restaurant di Cilandak KKO, Jakarta Selatan, terkenal dengan hidangan Ayam Inn's yang diakui lezat oleh banyak netizen. Restoran keluarga yang telah berdiri sejak 1993 ini menawarkan beragam pilihan ayam, mulai dari Ayam Goreng hingga Ayam Bakar Bumbu Rujak, serta menu ikan bakar dan jajanan pasar. Dengan harga satu porsi Ayam Bumbu Rujak sekitar Rp 120.000, tempat ini kerap menjadi pilihan untuk hidangan keluarga yang tak lekang waktu.
Ketiga, Plate Palate, sebuah restoran di dalam ujung gang, menawarkan perpaduan masakan Indonesia, Barat, dan Chinese. Meskipun lokasinya tersembunyi, restoran ini dipuji karena cita rasa makanannya yang unik dan berani dalam penggunaan bumbu. Salah satu menu andalan yang direkomendasikan adalah Mama's Loco, perpaduan beef patty yang dimasak medium dengan mushroom sauce, butter rice, dan sayuran segar, memberikan pengalaman bersantap yang tenang dan jauh dari kebisingan kota.
Keempat, Udonku, yang bersembunyi di lantai basement gedung perkantoran Midplaza, telah menarik perhatian sebagai surga bagi penggemar udon. Konon, restoran ini sering dikunjungi oleh warga asli Jepang, mengindikasikan otentisitas rasanya. Udon Beef Curry menjadi menu terlaris, menampilkan udon kenyal dengan bumbu kari berempah yang tidak terlalu kental, serta irisan daging US shortplate yang juicy, disesuaikan dengan selera lidah Indonesia.
Kelima, Dapur Bandha, sebuah rumah makan mungil yang terselip di dalam gang, menawarkan hidangan rumahan dengan rasa yang otentik dan kuat. Ketupat Kari Gule Sapi Dadar dengan tambahan sambal ebi dan Nasi Campur Tebet menjadi menu rekomendasi yang dicari pelanggan. Meskipun kapasitas dine-in terbatas, Dapur Bandha juga mengakomodasi pesanan antar, memungkinkan lebih banyak penikmat untuk mencicipi kelezatan sajian mereka.
Munculnya "hidden gems" ini bukan sekadar tren sesaat; ia mencerminkan dinamika pasar kuliner yang lebih luas, di mana autentisitas dan cerita di balik makanan menjadi sama pentingnya dengan rasa itu sendiri. Integrasi fitur rekomendasi destinasi oleh platform seperti Gojek menunjukkan bagaimana industri teknologi beradaptasi untuk memenuhi hasrat konsumen akan eksplorasi kuliner yang personal dan mendalam. Namun, tantangan yang mengiringi popularitas ini adalah bagaimana mempertahankan esensi "tersembunyi" dari sebuah "gem" setelah ia ditemukan dan dipublikasikan secara luas, sebuah paradoks yang terus dihadapi oleh banyak tempat makan sejenis.