Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Netizen Rancang Strategi 'Balas Dendam' Pasca Takjil Ludes Diborong Non-Muslim

2025-11-29 | 05:56 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-28T22:56:29Z
Ruang Iklan

Netizen Rancang Strategi 'Balas Dendam' Pasca Takjil Ludes Diborong Non-Muslim

Fenomena "perang takjil", istilah yang marak di media sosial untuk menggambarkan antusiasme masyarakat non-Muslim dalam berburu hidangan berbuka puasa, kembali memanaskan jagat maya selama bulan Ramadan, khususnya pada tahun 2024 dan 2025. Situasi ini memicu reaksi kocak dari para netizen Muslim yang merasa "jatah" takjil mereka terancam, mendorong munculnya berbagai "strategi balas dendam" di dunia maya.

Takjil, yang secara harfiah berarti "menyegerakan", telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi berbuka puasa di Indonesia, menawarkan beragam kudapan manis dan gurih mulai dari kolak, gorengan, hingga es buah. Kelezatan dan keragaman takjil ini rupanya menarik minat tidak hanya umat Muslim, tetapi juga masyarakat non-Muslim yang turut larut dalam euforia berburu jajanan.

Konten-konten viral di media sosial memperlihatkan bagaimana non-Muslim "mencuri start" berburu takjil lebih awal, terkadang sejak pukul 14.00 atau 15.00 WIB, saat umat Muslim masih menjalankan ibadah puasa dan berada dalam kondisi lemas. Hal ini memicu keluhan bernada humor dari sejumlah netizen Muslim yang mendapati takjil favorit mereka sudah ludes diborong. Salah satu akun TikTok bahkan menayangkan momen seorang wanita non-Muslim yang ditegur oleh "emak-emak" karena dianggap terlalu banyak memborong takjil, meskipun penjual kemudian menenangkan bahwa stok masih banyak. Komentar-komentar seperti "risol yang tersisa hanya yang sudah meleot dan es buah yang seger-seger sudah diambil duluan sama cici-cici tetangga sebelah" menjadi gambaran kekesalan yang dibalut canda.

Menyikapi "ancaman" takjil yang diborong oleh non-Muslim, para netizen Muslim pun tidak tinggal diam. Mereka mulai menyusun "strategi balas dendam" yang tak kalah kocak. Beberapa ide yang mengemuka adalah memborong telur menjelang perayaan Paskah atau membeli semua jeruk mandarin saat Imlek, sebagai "balasan" atas aksi "war takjil" tersebut. Unggahan seperti "Nanti Paskah gantianlah kita borong semua telur, terserah kalian Paskah mau pakai kinderjoy" menjadi viral dengan jutaan penonton dan ribuan komentar yang ikut meramaikan ide-ide balas dendam. Bahkan ada juga usulan untuk meminta pembeli takjil menunjukkan KTP sebelum bertransaksi, sebagai candaan agar takjil hanya bisa dibeli umat Muslim.

Meskipun dinamakan "perang takjil", fenomena ini justru dipandang sebagai manifestasi toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Banyak pihak melihatnya sebagai "angin segar" yang mampu menyatukan berbagai golongan masyarakat setelah masa pemilihan umum yang sempat memanas. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Dakwah dan Ukhuwah K.H. Cholil Nafis juga menyambut baik keikutsertaan non-Muslim dalam berburu takjil sebagai bagian dari berkah Ramadan, sembari mengingatkan agar umat Muslim tidak berlebihan dalam berbelanja. Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik candaan dan perebutan takjil, terdapat nilai-nilai kebersamaan dan interaksi sosial yang positif, menjadikan Ramadan sebuah momen yang dirayakan dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.