
Konsumsi kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern, sering kali dianggap sebagai pendorong energi untuk memulai hari atau mengatasi kantuk. Namun, di balik kenikmatan dan manfaatnya, konsumsi kopi yang berlebihan dapat membawa dampak serius bagi kesehatan. Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa terlalu banyak kafein dapat memicu serangkaian masalah, mulai dari gangguan pencernaan hingga masalah kardiovaskular.
Salah satu efek samping yang paling umum dari konsumsi kopi berlebihan adalah gangguan pencernaan. Kafein dapat meningkatkan produksi asam lambung, menyebabkan mulas, sakit perut, bahkan memperburuk kondisi refluks asam pada individu yang sensitif. Selain itu, kopi juga dapat bertindak sebagai pencahar ringan, yang berpotensi menyebabkan diare atau sembelit pada beberapa orang.
Lebih jauh, kafein dikenal sebagai stimulan sistem saraf pusat, yang dalam dosis berlebih dapat memicu kecemasan dan kegelisahan. Seseorang mungkin mengalami agitasi, serangan panik, atau memperburuk gejala gangguan kecemasan yang sudah ada. Insomnia juga menjadi keluhan umum, di mana kafein dapat mengganggu siklus tidur, membuat seseorang sulit tidur dan mudah terbangun di malam hari.
Dampak pada sistem kardiovaskular juga patut diwaspadai. Konsumsi kafein berlebihan dapat menyebabkan jantung berdebar kencang, detak jantung tidak teratur (fibrilasi atrium), dan peningkatan tekanan darah atau hipertensi. Ini memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, yang jika berlangsung lama dapat melemahkan jantung. Bagi individu dengan riwayat penyakit jantung atau tekanan darah tinggi, konsultasi dengan dokter sangat dianjurkan untuk menentukan batas aman konsumsi kopi.
Masalah lain yang mengkhawatirkan adalah risiko osteoporosis. Kafein dapat mengganggu penyerapan dan metabolisme kalsium dalam tubuh, di mana tubuh dapat kehilangan sekitar 6 mg kalsium setiap kali mengonsumsi 100 mg kafein (setara satu cangkir kopi). Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko tulang keropos. Selain itu, kafein juga bersifat diuretik, yang dapat menyebabkan dehidrasi karena tubuh lebih banyak mengeluarkan cairan melalui buang air kecil. Dehidrasi ini bahkan dapat memicu munculnya kerutan pada wajah.
Gejala overdosis kafein yang lebih parah meliputi migrain atau sakit kepala, tubuh gemetaran (tremor), pusing, mual atau muntah, kebingungan, dan dalam kasus yang jarang namun serius, bahkan kejang atau hilangnya kesadaran. Ibu hamil juga perlu sangat berhati-hati, karena asupan kafein lebih dari 200 mg per hari dapat mengganggu tumbuh kembang janin, serta meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, dan berat badan lahir bayi rendah.
Pakar kesehatan umumnya menyarankan batas aman konsumsi kafein untuk sebagian besar orang dewasa sehat adalah tidak lebih dari 400 miligram per hari, yang setara dengan sekitar 4 cangkir kopi hitam. Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof. Hardinsyah, merekomendasikan batas 300-400 miligram kafein per hari atau setara dua hingga tiga gelas kopi. Namun, ada pula studi yang menyarankan tidak lebih dari 2-3 cangkir per hari. Bagi ibu hamil dan menyusui, batas aman yang direkomendasikan adalah kurang dari 200 mg kafein per hari. Penting juga untuk memperhatikan respons tubuh masing-masing, karena sensitivitas terhadap kafein dapat bervariasi antar individu. Untuk menghindari gangguan tidur, disarankan untuk tidak mengonsumsi kopi pada sore atau malam hari, dan waktu terbaik menurut beberapa ahli adalah antara jam 10 pagi hingga 12 siang setelah sarapan.