Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Fenomena Kuliner: Dari Durian Vulkanik Idola hingga Nasi Goreng Rp1.000 Sensasional

2025-11-26 | 14:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-11-26T07:40:27Z
Ruang Iklan

Fenomena Kuliner: Dari Durian Vulkanik Idola hingga Nasi Goreng Rp1.000 Sensasional

Di tengah kancah kuliner global yang dinamis, dua fenomena menarik telah mencuri perhatian, mulai dari buah durian "vulkanik" yang diburu kolektor hingga hidangan nasi goreng dengan harga yang hampir tak masuk akal. Kedua kisah ini menyoroti keragaman dan inovasi dalam dunia makanan, baik yang berasal dari kelangkaan eksotis maupun kedermawanan lokal.

Durian vulkanik, varietas istimewa dari Thailand Selatan, kini menjadi incaran banyak penikmat buah durian. Durian ini secara eksklusif tumbuh dan dipanen di daerah tersebut, dengan kebun milik Saiyut Jannsawang di desa Na Khao, provinsi Trang, menjadi pionir budidaya. Disebut durian vulkanik karena ditanam di tanah yang kaya akan zat potasium dari letusan gunung berapi, yang konon memberikan keunggulan rasa. Keistimewaan durian ini terletak pada cangkangnya yang tipis, hanya sekitar 0,5 sentimeter, serta daging buahnya yang tebal, lembut, lumer di mulut, tidak berserat, dan memiliki biji yang lebih kecil. Rasanya pun disebut-sebut manis dan creamy yang seimbang, bahkan dua kali lebih lezat dibandingkan durian Monthong biasa.

Popularitas durian vulkanik ini melonjak drastis, hingga membuat calon pembeli harus masuk daftar tunggu selama setahun untuk bisa mencicipinya. Permintaan yang tinggi ini juga tercermin dari harganya yang fantastis. Durian vulkanik pernah terjual dalam lelang di provinsi Si Sa Ket, Thailand, dengan harga mencapai 150.000 baht atau sekitar Rp 66 juta, menjadikannya durian termahal kedua di dunia setelah durian Kanyao. Kebun milik Saiyut Jannsawang juga telah mendapatkan sertifikasi GAP (Good Agricultural Practices), menjamin produk durian bebas bahan kimia. Meskipun demikian, kekeringan baru-baru ini telah mengurangi hasil panen hingga 30 persen, dengan hanya sekitar 130 dari 220 pohon yang berbuah tahun ini.

Di sisi lain, kontras dengan harga durian yang fantastis, fenomena nasi goreng seporsi Rp 1.000 menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Penawaran harga yang sangat murah ini ditemukan di beberapa daerah, termasuk di Nganjuk, Jawa Timur, Grobogan, Jawa Tengah, dan juga sempat viral di Solo, Jawa Tengah.

Di Nganjuk, seorang penjual nasi goreng menggunakan sepeda motor viral karena menjajakan nasi gorengnya seharga Rp 1.000 per porsi, sering kali dilengkapi dengan sate usus seharga Rp 500. Pembeli terkejut karena porsi nasi goreng yang diberikan cukup banyak, tidak pelit meskipun harganya sangat murah. Banyak warganet yang memberikan apresiasi kepada penjual ini, menyebutnya sebagai tindakan "jualan sambil sedekah". Demikian pula di Grobogan, ditemukan warung yang menjual nasi goreng seharga Rp 1.000, menarik perhatian banyak orang karena harganya yang sangat terjangkau.

Sementara itu, di Solo, inisiatif nasi goreng Rp 1.000 muncul sebagai bentuk kepedulian sosial selama periode PPKM Level 4 pada tahun 2021. Pengelola Bakmi Pak Met, bekerja sama dengan berbagai organisasi, menyediakan 250 hingga 300 porsi nasi goreng setiap hari dengan harga Rp 1.000 per porsi untuk masyarakat yang terdampak pandemi. Meskipun fenomena nasi goreng seharga Rp 1.000 ini tidak berlaku di semua tempat, keberadaannya menunjukkan upaya para pedagang kecil untuk tetap bertahan dan berbagi di tengah tantangan ekonomi, atau hanya sekadar menarik minat pelanggan dengan harga yang sangat kompetitif. Kisah-kisah ini merefleksikan dua sisi mata uang dalam dunia kuliner: satu sisi menunjukkan nilai premium yang dihasilkan dari keunikan geografis dan kualitas superior, sementara sisi lain menyoroti aksesibilitas dan kemurahan hati yang menjadi denyut nadi masyarakat.